Loading...

Selasa, 01 Maret 2011

Diriku? oleh You AndWe pada 03 Oktober 2010 jam 13:00

 https://www.facebook.com/notes/you-andwe/diriku/431471842330
 Dan orang-orang yang berkata: "ya TUHAN-ku anugerahkanlah kepada kami istri2 kami dan keturuan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa [ Al Furqaan; 74]

 Semoga doa tersebut adalah janji ALLAH yang pasti..
Dan janji ALLAH adalah pasti... yakinkan selalu... Amin Ya ROBBAL'ALAMIIN..


Hatiku ini sudah merasa tenang...
ketika ALLAH memberi ilmunya, ketika hidayah_NYA menyapa, ketika kalam_NYA terasa
Dan, takkan bertepuk sebelah tangan saat cinta itu ditujukan kepada-NYA, cinta hakiki tiada dua hanya satu untuk semua. ya, cinta ILLAHI...
 ALLAH Pemilik cinta itu, semua akan kita dapatkan karna DIA, ARROKHMAN ARROKHIIM...
yang menarik hatiku yang terlempar karena aku mencintai makhluknya yang masih butuh pertolongan-NYA, sungguh menyakitkan... namun kenangan itu telah menjadi suatu pengajaran yang penuh hikmah berkat Karunia_NYA

Hati ini tetap tenang, yang bisa terusik bila ada ikhwan yang ingin ber-ta'aruf..
Berbagai pertanyaan muncul, 'diakah? seperti yang kuinginkan?
Belum juga 'dia' menyatakan, kenapa sudah ada penolakan?
Inikah isyarat dari Sang Penggenggam hati?
Bisakah bertoleransi? Dia itu sedang berikhtiar?
Haruskah aku memutus harapannya seketika itu juga?
Bagaimana bila aku berada di posisinya?
Sungguh..
hati ini tak bisa berbohong!
Cobalah untuk berkompromi!
Meski, begitu menyakitkan???...
  • Kalau hati ini tidak menerima, bagaimana mungkin dapat menentramkan hati?
E..e.. cara berpikir seperti itu salah, ya?...
Memangnya, kita berhak menilai orang lain secara serta merta bahwa; kesan pertama begitu mempesona, selanjutnya... terserah anda! (kayak iklan saja)  lalu, bagaimana dengan sebaliknya mengenai'dia? Citra buruk mengenai 'dia?
image YouandWe

Dan tiba2 ada sanggahan;  JANGAN memandangku dengan sebelah mata, kamu hanya memandangku sekejap saja!
Iya...
Jadi inget'aku'!
Memangnya siapa 'aku'?
Berhadapan dengan orang lain, mendadak jadi linglung...
karena aku berbeda dengan mereka..
tak bisa kupungkiri jika kenyataan tak sesuai yang aku bayangkan, seberapa inginnya kita sama...
Bahwa
sebenarnya, hati itu tidak bertaut
Hanya ALLAH Yang Menyatukan Hati
Inginnya aku bersama mereka di jalan_MU.. Wahai, Dzat Yang Memiliki hati...

seberapa tau orang lain tentang aku?
haruskah orang lain lebih tahu tentang aku?
Ternyata,
'aku'
bukan sekedar gambaran tentang: aku ini seperti ini, bukan pula, aku itu adalah begitu!



Tulisan panjang itu menjemukan!
Tapi, mengapa jemari ini tak henti ingin merangkai kata untuk menuliskan?
suatu pilihan?
Mungkin berguna nanti?!
hanya... jangan pernah berhenti melakukan sesuatu, jika itu kebaikan, kenapa tidak?
  • Jangan pernah berhenti melakukan!

Diriku?
kenapa jadi bingung dengan 'diriku'?
mau jadi apa dan kemana, kan diri ini yang tahu?
Mengapa jadi beraaat!?

  • AH, menunggu itu meresahkan!
Bukan hanya bikin galau, tapi juga menyiksa karena jawaban atas semua perkiraan harus menempuh waktu... Sedangkan diri tidak ingin diam seribu bahasa melainkan harus diungkapkan...
Jika ditanya, aku  sudah siap dengan apa yang kuputuskan untuk kulakukan bila ALLAH nantinya memilihkan itu untukku?Kenapa jadi bimbang?
ya, apa aku sanggup mempertanggungjawabkan apa yang telah aku upayakan?
Kenapa jadi, takut?

Bukankah sudah aku ikhtiar-kan?

Aneh, jadi 'manusia'
menginginkan sesuatu, terus diusahakannya. Eh, setelah didapat berkelukesah?!..

Memang, manusia selalu mau menerima perintah, tapi tidak mau/ enggan melaksanakan perintah!
Apa iya, sih?
Buktinya... bintang selalu terlihat pada orang lain, pelangi hanya terlihat di mata orang lain!
Kadang tidak menyadari, banyak yang ingin di posisi 'ini' malah diri ini pingin mengabaikannya...
Terus?

Andai posisi itu dialihkan ke yang lain, tidak rela, kan?
jujur, jawabannya pasti, 'iya, tidak rela!'
Dan, semua seolah menjadi gelap dan tidak ada yang tersisa sama sekali dalam diri...
Padahal, kesempatan dari ALLAH terbentang begitu luasnya... Bahwa, rasa syukur itu memberi nikmat dan bertambah nikmat...
jadi, YUUUK!!! SYUKUR...

Apalah 'aku' hanya sekedar noktah tanpa bisa membentuk satu huruf-pun...
Masih butuh orang lain, tak dapat menentukan sendiri dimana hak-hak orang lain bergantung disana...
kalau aku egois, hanya akan beterbangan jadi debu,
kenapa jadi ingin tau apa sebab debu yang kotor itu bisa men-suci-kan(thaharah) sebagai pengganti bila tidak tersedia air???

Selalu ada dualisme?!
Andai aku tahu persis, mana yang kuinginkan dan mana yang kubutuhkan?!
Ternyata, apa yang ALLAH berikan pada diri ini yang kubutuhkan...
Yakin, itulah yang terbaik meski itu  yang terburuk menurut kita...
Kenapa jadi takut lagi, jika harapan kita sandarkan pada ALLAH?

hah, jadi bingung dengan diri sendiri?
Bagaimana bisa memahami orang lain, ya? bila diri sendiri tidak tahu mengenai tentang diri?
Mungkin, tidak tahu diri?...
Bukankah, aku seperti melihat cermin pada mereka?
Berbagai macam bentuk dalam cermin itu...
Hei,
aku tidak mau jadi yang lain!!!
 (KOq, nglambrang tidak karuan?


STOPP!!

Let's try to be our self!

Is this me?

I don't know
==> a simple answer and...
just, make a success to make me confuse...
0_o
Makanya,

BELAJAR!!

Ok's
Now,
 time is a lesson to learning...

Hah?!...

Let's me think...
Bentuk deklarasi diri