Minggu, 10 April 2011

Cermin Yang Hilang

Senang bisa ikutan, smoga ada kesempatan ikutan lomba  dan bukan dengan modal nekat lagi
^_^
CERMIN YANG HAMPIR MENGHILANG


Sungguh, ini tidak seperti yang dibayangkan, tapi pernahkah kamu merasa itu benar-benar terjadi di hadapanmu?
Ini lebih sulit dari sekedar menghadapi kenyataan. Mungkin hal yang sama ketika mengalami depresi. Entahlah...Kenapa jadi phobia begini? Suatu kali kesempatan datang  tentu  tak boleh dilewatkan begitu saja. Lakukan sesuatu untuk menggenggamnya, segera! Tapi suara-suara sumbang menjadi pembebat kaki untuk melangkah ke depan. Sekonyong-konyong, jurang terjal mengerikan terhampar di depan mata. Aku harap, ini hanya sekedar ilusi belaka. Aku berusaha sejauh mungkin mundur kembali ke belakang dimana aku tadi berada. Sudah menjadi jawaban pada akhirnya...aku kembali ke tempat semula seolah tidak pernah melakukan apapun.
Sungguh, ini tidak seperti yang dibayangkan! api pernahkah kamu merasa itu benar-benar terjadi di hadapanmu?
Sekali dua kali, bahkan tak terhitung berapa kali aku mengalaminya. Ingin satu saat berontak! Untuk yang kesekalian kalinya, mencoba dengan pemahaman yang berbeda. Meski mendung terus membayangi .Hujan pun seolah tak mau berhenti. Biasnya merajut warna mentari. Andai tak semudah pengucapan agar aku siap mengamati bayanganku sendiri yang kelam, begitupun disekitarku. Ugh, aku hanya terfokus pada diriku sendiri. Kenyataan di sekitarku ikut menyembunyikan dunia luar. Aku seperti katak dalam tempurung yang menjadi sosok yang dibanggakan, dianggap lebih, dan semua hal yang menawan tentang diriku. Ada rasa menggelitik, penasaran! Apakah hal yang sama diluar sana atau ada hal yang lain? Bagaimanapun, tidak bisa kalau hanya diam menunggu sesuatu datang. Aku memberanikan melakukan suatu hal lagi dan lagi. Hingga aku menemukan hiasan pada bayangan-bayangan itu. Tapi aku jadi risih merasa tersudut... dipandang berbeda... aneh.
Cobalah merentas asa yang membayang!
Ehm... sosok mereka terlalu ramai untuk diabaikan. Terlalu manis untuk dibuang. Bintang ikut berpendaran hingga cahayanya membuka pandangan yang selama ini tak kelihatan. Dunia yang tidak semuram tatapanku yang masih berselimutkan kabut. Aku masih punya nurani untuk merasai. ALKHAMDULILLAH itulah salah satu karunia_NYA. Dan seketika aku baru saja terbangun dari mimpi.
Kemana saja aku selama ini?
Aku baru menyadari bahwa mereka benar-benar ada sampai lupa mensyukuri. ALLAH memberi momen saat aku ingin tahu dan mencari tahu. Mereka tersenyum tanda persahabatan. Aku seperti bercermin pada diriku sendiri. Sebaik aku mengenal diriku saat bersama. Begitu dekat meski jarak dan waktu memisahkan. Lintasan yang mereka lalui mematahkan prasangkaku. Yang buruk dari diriku adalah ketika menghadapkan diriku di tepi jurang. Padahal, jika aku mau meluruskan niat, jalan telah merentang panjang. Menanti. SUBHANALLAH, melalui mereka ALLAH tunjukkan jalanku. Namun, mereka begitu jauh meninggalkanku. Sementara aku tertatih meniti luka penuh perih.
Yang mendukung sekaligus merejam semangat dan aku hanya berusaha tidak memadamkan obornya. Membiarkannya terus menyala dalam harapan. Sementara aku masih bingung apa yang harus dilakukan, mereka telah menuai hasil jerih payahnya. Ayolah! Ajari diri ini melakukan sesuatu tanpa mengharap hasil apapun! Bukan apa yang kuraih, tapi apa yang kulakukan. Hal itu lebih bermakna daripada memikirkan kegagalan demi kegagalan yang sebenarnya bukan gagal tapi belajar untuk menjadi lebih baik.

Dunia itu semu. Apa yang ditampakkan indah itu palsu. Ada yang tidak menginginkanku kecewa karenanya. Beliau takut aku akan melalaikannya. Demi ALLAH, justru aku berusaha mewujudkan harapannya. Syukurlah jadi teringat nasehat bahwa waspada boleh namun tidak boleh berprasangka. Bukankah ALLAH itu menurut prasangka hamba_NYA. Dengan 'mengerti' aku tidak ingin kehilangan mereka lagi dan itu sudah aku putuskan. Mengerti tentang apa itu yang menjadikan raut muka berubah. Memahami, mengapa aku harus berbagi karena rasa kebahagiaan saat melakukannya  ternyata bermanfaat kepada yang lain.
Sudah cukupkah? sanubari selaksa berteriak untuk membiarkanku selalu mengikuti bilur kesuksesan mereka dan meninggalkan noktah keterpurukanku. Keberhasilan itu ketika mampu meninggalkan hal yang tak berguna dan tak disukai ALLAH. Selangkah demi selangkah.  Untuk kali ini aku tak boleh gagal lagi.
Termenung di persimpangan, jalan telah membentang, oh, TUHAN... dimana semangat yang menggebu-nggebu itu? Apa yang ingin diluapkan segera, seolah surut tak bersisa, sama sekali.  Seperti  tidak berdaya untuk bangkit mencari kembali, lalu, memulainya dari awal lagi dan lagi. Bagai burung dalam sangkar terbiasa telah tersedia segala keperluan, tidak awam mencari kebutuhan sendiri lalu terlepas bebas, begitu saja.
Sungguh, ini tidak seperti yang dibayangkan, tapi pernahkah kamu merasa itu benar-benar terjadi di hadapanmu?
Ah, ada yang mengingatkanku kalau musuh terbesar dalam hidupku adalah diriku sendiri. Aku boleh tersenyum, termangu, atau terusik. Aku memang menjadi lebih baik bisa lebih mengenal diriku sendiri. Toh, sangkar itu sudah menjadi milikku, pergi kemanapun, pasti aku akan kembali lagi. Tentu, sebagai burung yang bebas.
Cermin yang hampir tidak pernah kutemukan seandainya aku tidak mau berkaca. ALLAH tidak akan pernah membiarkan hamba_NYA seorang diri, dan takkan pernah sendiri. Keberhasilan ketika mampu menjalani setiap tahapan sebuah proses. Tidak boleh berhenti sebelum meraih mimpi. Suatu gerbang bukanlah akhir, justru itulah awal sebuah perjalanan. Jangan pula mengukur keberhasilan dengan materi, karena kegagalan adalah ketika berputus asa dan berhenti melakukannya.
Ketika mulai menyalahkan keadaan yang ditimpakan orang lain atas diri ini, saat itu pula aku merasa dikalahkan secara telak. Lawanlah ketidakberdayaan dengan melakukan yang terbaik sebab jika diam berarti aku telah binasa. Yah, aku hanya berupaya meyakinkan diriku agar selalu berani menatap ke depan,  tanpa berhenti dengan alasan takut  dan mau menafakuri kesalahan untuk memulai pijakan yang lebih baik juga semakin kokoh.
Dunia yang sempit menjadi terasa luas dengan perbedaan aneka rupa dan macam rasa. Kadang iri tanpa ampun meracuni, disitulah ingin berbuat lebih dari kebaikan yang telah mereka lakukan. Rasa kagum pun tak terelakkan, dimana aku bisa mulai meniti apa yang mereka lakukan untuk meraihnya. Namun, aku tetaplah diriku yang tidak akan bisa dan aku pun tak pernah mau menjadi yang lain. Biarkan aku menjadi diriku dengan kelebihan dan kekuranganku, selalu.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah perhatian untuk blog ini
Semoga Bermanfaat...
Terima kasih atas kunjungannnya...