Loading...

Sabtu, 09 April 2011

Rapuh-nya Opick Inspirasiku


Meski nggk menang lomba
sharing aj deh,
RAPUH


BUKAN kali pertama aku berada di Ibukota provinsi Jawa Tengah,  sendiri. Menempuh perjalanan lumayan jauh, belum tahu pasti letak alamat yang kutuju,  plus udaranya yang berbanding terbalik dengan udara tempat asalku yang boleh dikatakan masih daerah lereng pegunungan yang dingin
            Satu, dua… eh,
ribuan ternyata, teman-teman seperjuangan sudah berdatangan lebih dulu daripadaku. Wajah-wajah yang penuh ekspresif, mereka menyadari adanya kamera yang siap menangkap action mereka setiap saat. Yup, aku belum mengenal mereka, tapi dari sikap yang mereka tunjukkan telah menawarkan persahabatan, ada yang menyapa, dan ada pula yang sekedar melempar senyum. Yah, sebuah dunia asing yang ingin kumasuki setelah sekian lama terpenjara dalam sepi untuk bisa berkompetisi namun membingkainya dalam kebersamaan, saling  mengerti, saling berbagi, dan menjelma jadi ‘bintang’.
Pandanganku tentang bintang saat itu adalah panutan yang cemerlang. Menghibur hati banyak orang, memukau dia atas panggung, dengan upaya dan kerja keras   menampilkan sebuah karya. Luar biasa! Kepuasan itu diperoleh ketika telah mampu  memberikan yang terbaik, dengan jerih payahnya sendiri.
            Auwh… membayangkannya saja sudah membuatku terbang ke awang-awang, dan aku merasa ada yang selalu memantau gerak-gerikku hingga harus menjaga tingkah lakuku?!
Narsis!
 Yah, biarlah aku berkelana dalm duniaku dengan caraku sendiri!
Biarkan aku mengerti, inikah yang aku inginkan?
Ayah sudah mengingatkanku bahwa modal yang kumiliki adalah ‘nekat’. Memang, aku belum tahu pasti tentang dunia hiburan itu seperti apa selain apa yang kulihat, kubaca, kudengar dari media. Aku hanya sekali berada di panggung sewaktu TK. Setelah itu, tidak ada yang mengarahkanku kesana meski minat itu telah tumbuh.  Yang aku tahu saat itu, bahwa aku dianggap aneh oleh sekelilingku hingga aku memutuskan untuk tidak menampakkan ‘keanehan’ itu. Dibanding mereka (akademia ajang audisi bakat nyanyi) jadi tak tepat jika ‘ bintang karbitan’ disematkan buat mereka karena mereka telah melatih bakat dan menorehkan prestasi sedari dini.  Tekadku sudah bulat rupanya bahwa aku  bisa  meraih apa yang kuinginkan dan itu harus dengan perjuangan. Kurasa, inilah saatnya! Saat aku baru tahu apa yang aku inginkan.
Kenyataannya,  meski aku gagal pada session sebelumnya, kali inipun aku juga tak lolos audisi. Kalau ada yang  tanya, ‘Apakah aku merasa sedih dan kecewa?’  
Jawabannya, ya… pastilah!  Tapi, ada yang membuatku  bahagia sebenarnya ketika aku benar-benar merasakan kebersamaan meski begitu singkat dengan mereka, teman-teman yang penuh optimis. Ada rasa hampa yang terisi oleh kehangatan dan keterbukaan mereka yang mau menerima kesendirianku, apa adanya.
Ada pula rasa haru dengan ucapan terima kasih dan wajah berseri-seri menyambut persahabatan,  hanya dengan kata ‘Sukses, ya!’ dan sempat terlecut dengan teman dari Jatim. Dia rela menempuh audisi di berbagai kota, dan ketika aku bertanya dia tidur dimana karena dia tidak punya saudara dan kenalan dikota itu;
“Di musholla ini pun sudah lebih dari cukup, mbak” jawabnya sambil tersenyum mantap.
“Hati-hati, ya!”  hanya itu yang aku ucapkan. Perempuan harusnya tidak sendirian. Nekat banget, nih anak? Aku tenang sebab aku bisa menelphon minta dijemput  saudaraku yang tinggal di Semarang jika kemalaman.
Kekaguman yang tidak dapat aku pendam ketika bertatapan langsung dengan sosok humas TV favorit-ku saat itu. Ternyata keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berkarya.
Aku hanya belum paham, mengapa aku harus marah-marah setiap kali ada salah seorang saudara mendadak menghubungi hp-ku sekedar menanyakan bagaimana keadaanku saat itu. Apakah dengan begitu, mereka merebut kebersamaan teman-teman dari sisiku? Entahlah…
YA, TUHAN… Jatuh bangun aku mencoba mencari diriku dimana aku harus berada dan berperan sebagai apa dalam upaya  memanfaatkan kesempatan yang telah ENGKAU  berikan. Pedih, perih, sakit menjadi ‘orang yang tak berguna’. Kadang perasaan itu menggelayut lekat hingga membuatku runtuh, tak berdaya. Sempat terpikir, kenapa aku tidak diciptakan menjadi tanah saja? Bumi ini selalu bersujud, selalu diam bagaimanapun perlakuan keji manusia terhadapnya, hanya ALLAH jua yang membela itu sudah lebih dari cukup? Bahkan cacing yang tak berguna pun memberi faedah pada manusia, dan tidak perlu menaggung segala perbuatannya di hari perhitungan?
ASTAGHFIRULLAH
Apa  yang terjadi dalam diriku? Pantaskah, manusia yang diciptakan  ALLAH paling sempurna dan sebaik-baik makhluk-NYA malah merutuk diri seperti itu? Tidak tahu berterimakasih…
Tersadar diri ini, hamba terus berusaha lepas dari belenggu ini.
TUHAN, terantuk aku pada rasa… Kenapa aku berharap pada mereka? Mereka, kan hanya ciptaan_MU yang masih butuh pertolongan_MU sama sepertiku.
 Ketika ENGKAU  sembunyikan mereka dariku, aku rindu…  Tapi, seberapa rinduku dengan kehadiran_MU?
Sebegitu  pentingkah  ciptaan_MU? Lebih penting dari Pencipta_NYA? Ah, ada yang salah denganku!? Jika melaksanakan perintah_MU dan meninggalkan larangan_MU, yang terjadi adalah; ALLAHUMMA paksakan diriku… Ya, ALLAH hamba hanya memaksakan diri… karenanya, ampuni hamba ini, Ya RABB
Hamba merasa malu, mengingat dengan penuh semangat saat mereka hadir, seolah menemani. Padahal… ALLAH_lah yang selalu HADIR dan ALLAH yang selalu ADA dimanapun kita berada.
            Aku telah tertipu dengan kehadiran mereka. Rasa ini tidaklah muncul  tiba-tiba,  karena diri ini akhirnya menyadari  bahwa ALLAH Maha Kuasa Menyatukan hati… Alangkah indah anugerah ini, tak ingin melewatkan momentumnya, hanya bisa berharap bimbingan dari_MU.. Ya ROKHIM 
            Naifnya, jika aku menganggap ‘bintang’ itu adalah mereka yang cantik menawan, tampan rupawan, penuh pesona hingga mengundang atensi. Mereka yang memiliki kelebihan kebisaan dan sukses secara materi. Sempitnya pandangan itu. Tidak salah ingin menjadi ‘bintang’, ALLAH telah memberi gambaran sempurna mengenai bintang. ‘Bintang’ yang diciptakan sebagai penghias langit, memang begitu indah.  Menjadi pelindung bumi dari syaitan yang berusaha mencuri dengar ke langit, lalu mereka(syaitan)  dikejar dengan suluh api yang cemerlang ( As Shafaat(37): 6-10) dan ( Al Hijr (15): 16-18). Dan bintang pun sebagai petunjuk seperti yang tersirat dalam surat Qur’an An Nahl (16) ayat keenambelas.  Takkan cukup dunia seisinya menerangkan makna ayat-ayatnya. Alam semesta inilah bukti kekuasaan ALLAH.
            Aku tahu, bait syair tiada artinya, rangkaian kata tanpa makna, dan senandung takkan menyentuh kalbu tanpa petunjuk dari Dzat  Yang MAha memberi Petunjuk.  Rapuh… seolah menelaah sisi-sisi kegelapan hati, gelap tanpa cahaya. Apalah arti gemerlap dunia tanpa Rahmat_MU.
            Serapuh hamba menjalani setapak demi setapak untuk mengenali_MU. Tiada gunanya bila tanpa Kalam-MU… hamba benar-benar rapuh, bahkan tidak akan menyadari telah tergelincir bila  tanpa perlidungan_MU…
Sesekali, ada perasaan takut, jika ternyata diri ini malah menjadi ‘yang dipuja’ lalu bagaimana hamba mempertanggungjawabkannya di hadapan_MU, ALLAH-lah yang pantas dipuja. Kegagalan yang lalu menjadi hikmah yang sempat hamba sesalkan kemudian berbuah hikmah.
            Begitu besarnya karunia yang telah ALLAH berikan. Sungguh,  hamba tak mampu berbuat apapun tanpa tuntunan_MU. Seandainya hamba tidak mendapatkannya, benar-benar hal itu adalah kerugian besar sebagai makhluk ciptaan _MU.  Jangan  lalaikan hamba, Ya Sang KHALIQ… Bimbinglah dan golongkanlah kami dalam golongan hamba_Mu yang beruntung sebagaimana halnya para Rasulullah SAW  beserta umat, kesejahteraan selalu dalam syurga-MU
             Hanya, Kumohon… sekian masa aku mencari diriku dalam karyaku untuk menuju_MU. Takkan bisa dipungkiri, janji ALLAH pasti, hal itu tentu terjadi. Ketika jauh melangkah, hadapkan wajah dan hatiku saat tiba waktuku  kembali… PADA_MU
AMIN

***