Loading...

Sabtu, 09 April 2011

Weeklynotes



DREAMS2REALITY

SEMPET loss konsentrasi dengan dua event  yang hampir bersamaan, ini dan satunya lagi melalui media blog. 'Dreams 2 Reality', well... Mungkin cita-cita atau harapan,
bagiku, menggapai mimpi seperti mengenggam air, luruh tak bersisa, namun bisa terasakan, basah, bisa pula membersihkan atau mengotori pemikiran.
Rasa2nya bukan sekali ini melangkah? Mungkin step-nya yang salah? Mungkin?! Hei, dulu aku tidak memikirkan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah gagal dan kemungkinan kedua adalah berhasil. Belum tahulangkah apa yang diambil setelah dua kemungkinan itu. Huffh, ternyata menghadapinya tidak semudah berkata-kata. Sebentar(!) Kenapa Leutika mengambil judul ' Dreams 2 Reality'? Pas banget dengan Milad Leutika yg kedua tahun. (2)  yang dalam bahasa Inggrisnya  two? Bukannya 'to'? Memang, kalau dibaca akan sama2 berbunyi 'tu'. Jadi pingin mereka-reka, mungkin maksud Leutika, realita itu adalah kegagalan atau keberhasilan, berhenti atau meneruskan, mencoba lagi atau cukup berhenti sampai disini. dan pilihan itu sebenarnya ada di tangan kita sendiri. ada kemungkinan lain? nanti dipikirin lagi *_*
Kesempatan datang saat punya keinginan dari sebuah penerbit Islami ternama di kota Solo Raya. Sudah aku putuskan kemana genre tulisanku nanti. Dengan semangat menggebu-nggebu menyambutnya, didukung ide-ide cerita yang sudah menyesaki buku catatan, pingin segera berbagi kisah dan mengabarkannya ke penjuru dunia (Ciee) Inilah hasil karyaku! (narsis)
 Menyadari dunia telah berkembang, dulu sudah cukup dengan menggunakan mesin ketik tapi sekarang serba elektronik canggih dengan setting aplikatif, sesuai layout yang diinginkan. Mau tidak mau, harus putar otak agar bisa menggunakan kompu atau leppi untuk membuat naskah setelah mencermati syarat dan ketentuan lomba 'Menulis Novel Inspiratif'. Minta pada ortu nggak mungkin lah, mereka pasti memberikan support untuk segera cari pendamping biar ada yang bantu, cari teman lalu matur Bapak. Yah, dukungan yang menggetarkan hati sekaligus miris.  Lumayan menyita waktu mencari celah dari saudara sampe operator warnet juga, yang ikut mencarikan informasi tentang monitor multimedia yang murah meriah. Wah, hubungan dengan kerabat sempat terguncang akibat keberanianku pinjam modal, maksudnya aku pingin dibelikan dulu lalu aku membayar cicilannya perbulan, dia sedang nggak ada dana karena habis membiayai pemasangan parabola (sabarkeun hati ini y ALLAH) tega sekali bilang begitu disaat aku bener2 butuh bantuannya, memang berharap pada manusia akan selalu mengecewakan. Itupun setelah gagal usahaku dari bank syariah terdekat, setelah mengetahui ternyata dengan sistem meminjamkan uang bukan dengan isti'na( pembelian dengan memesan terlebih dulu) bukan pula Sharf atau arrahn yaitu pinjaman dengan sistem gadai. Bunga pinjaman ditentukan pihak bank, lalu apa bedanya dengan riba, dengan berat hati aku mengundurkan diri untuk pengajuan talangan dana, semoga di lain waktu ke depannya bank syariah tersebut lebih konsen dengan muammalah yang lebih shar'i  dan tidak melulu mementingkan komersil. Operator warnet yang baik hati pun batal. Yah, harganya masih belum teraih oleh kantong, kalau uang tak mencukupi dimana mau nyari kekurangannya, Weleh.. weleh..  aku bukan tipe orang yang nekat dengan gaya hidup 'lebih besar pasak daripada tiang'. Keep on real, akhirnya aku pakai kompu warnet dengan layanan ekstra (Thank,s God for their kindness)  Mereka tau kalo aq butuh kompu khusus untuk ngetik, nganggurin satu kompu untuk kupakai meski kadang juga full pengunjung dan aku mengalah, secara siswa2 sekolah itu juga punya kewajiban menggarap tugas dari gurunya.Tak jarang diselingi sessi on line hingga bikin nggak fokus yang justru memberi inspirasi lebih.
Naskah hampir terselesaikan kurang lebih 70%, MASYA'ALLAH data yang kumasukkan ke USB hilang berganti file2 yang tak terbaca, hanya berupa simbol. Sebagai pengalaman juga, lain kali kalo meng-edit data harusnya langsung di program Microsoft  setelah jadi  baru disimpan di USB. Tidak buru-buru mencabut sampai loading selesai dan muncul ikon safety removable disc. Tips yang sempat unknown dan terabaikan. Sempet drop juga mengingat batas akhir pengiriman naskah tinggal hitungan minggu. Ditambah out of imagine, naskah yang kubuat sudah melewati tahap krisis eksplorasi, aku bilang pada Bang Operator " Ini sudah dipere-peres santennya" suatu kali dia nanyain naskahku udah rampung atau belum.  Merenung atau menyalahkan keadaan takkan pernah menyelesaikan masalah, aku tetep mengetik naskah mulai halaman kesekian dari halaman yang masih tersimpan rapi di folder kompu warnet.  Ortu juga selalu memberi komentar yang bikin panas dingin meski mendukung dengan tambahan saku, syukurlah, setidaknya mereka tidak membiarkan aku kelaparan kegiatan. Suntuk di rumah terus, mau ngapain kalo nggak ada kerjaan, bawaannya marah2 terus, nggak bangeud gitu, loch. ALKHAMDULILLAH, naskah terpenuhi dimana deadline  diundur sebulan. Saat menunggu pengumuman aku mengenal Leutika. Pada dasarnya aku seneng ikutan lomba toh bisa mengasah kreatifitas. Bisa bertemu dan menimba ilmu dengan mereka yang mempunyai hobi yang sama, menulis. Mengapa tidak, mengisi kekosongan sekaligus bermanfaat. Lalu dihadapkan pada kenyataan bahwa naskah yang  penuh peluh dan air mata, ditolak? Hampir lupa dengan tujuan menulis adalah mengisi waktu luang dengan hal yang berguna.
Dimanakah mimpi yang akan menjadi kenyataan menurutku adalah saat aku bangkit kembali  meniti langkah kembali, dan kembali, meski belum terwujud, tahapan itu yang memberi nilai. Mengingat ALLAH menilai apa yang kita lakukan. Bagi mereka yang telah sukses, hasil yang mereka capai adalah bonus. Dan aku baru melangkah menuju perjalanan yang masih panjang, riskan mengalami guncangan. Mencoba untuk bertahan dan tidak mengeluh menghadapi ujian. Satu hal yang  melegakan saat diri punya kemauan untuk berupaya meraih yang diingini. Berani memulai proses  menjadi awal langkah besarku. Terlalu muluk bila ingin mewarnai, setidaknya diri ini bisa memulai meski hanya berupa titik awal, semoga bisa menjadi awal sebuah perubahan untuk lebih maju. Lalu, bagaimana dengan mimpi buruk atau hal yang tidak diinginkan? Pinginnya sih, tetep menjadi mimpi dalam arti yang sebenarnya. Walaupun dihadapkan pada kenyataan, bukan saatnya menjadi 'nightmare' yang menghantui. Harusnya memacu diri dan sudah saatnya berjuang guna memperbaiki bukan tersungkur untuk  berputus asa.
So, bukan saatnya bersedih, meratap, apalagi kalap... Owh, tidak! Tidak boleh! Harusnya realistis, ambil rehat sejenak untuk menelaah kembali, memahami masalah, mencari kesalahan untuk diperbaiki. Itulah cara yang tepat meski pelaksanannya enggak gampang, tapi... luar biasa, karena hal itu mampu mendongkrak kembali semangat yang sempat tepuruk dengan pemikiran yang lebih jernih. Bukankah, untuk memperoleh lompatan yang lebih jauh, lebih tinggi seorang pelompat perlu mundur beberapa langkah, iya, bukan menyerah namun mencari pijakan yang tepat untuk lompatan spektakuler...  Bentuk perumpamaan yang ingin coba diamalkan, jadi, BISMILLAH... atas kuasa ALLAH... Wake up! Let's built our dreams! Dreams 2 Reality...
***