Loading...

Minggu, 03 Juli 2011

JALAN SIMPANG



Ya Salam

kenapa aku harus memberi isyarat ini?
setidaknya untuk diriku sendiri untuk bersiap
dan...

aku memilih judul persis dengan jilid2 buku yang tengah aku baca?
memang kebetulan ajah merasa berdiri di jalan simpang dan tengah terpekur dan berpikir, jalan mana sih yang akan aku pilih? semua penuh konsekuensi yang harus aku pertimbangkan sekaligus aku hadapi.

Pembicaraan yang serius lagi antara orangtua dengan orangtua, sesama Ibu
aku gembira namun di sisi lain ada semacam kepedihan
kenapa aku harus merasa sakit hati?
mendebarkan!!!
seperti medan pertempuran dan  bukan tidak mungkin akan menjadi sasaran (Hei!) apa nggak ada istilah lain untuk mengungkapkannya?
Pastinya, kata-kataku sekarang ini terpengaruh dengan ceritera rakyat yang tengah aku baca. Yang mengesalkan justru saat episode yang paling menarik jadi terputus karena jilidnya tidak ada >_<

Sungguh kegelisahan ini bikin mata tak terasa terurai. meski disembunyikan, satu ketika Ibu bisa mengamati dengan seksama mataku yang tiba2 sembab. Berapa kali aku bisa menghindar? Bahkan ada juga yang curiga, apa aku  sudah punya pilihan?

Gimana ya?!

Di saat aku merasa dia juga punya rasa, namun tidak ada tanda-tanda keseriusan dari dia. Dia laki-laki bukan, sih? Semestinya dia tunjukkan! Sikapnya membuatku ragu...  Sementara ada laki-laki lain yang tak kuduga-duga datangnya,  berniat akan menyampaikan maksud? Ada perasaan kecewa... Benar-benar kecewa, dan bila aku sadar kenyataan ini 'rasa' yang terpendam itu jadi  rasa benci...

Ayolah...

Ada apa, sih dengan aku?
Seolah aku yakin dia punya rasa juga seperti aku. Bukankah dia seorang laki-laki yang bisa berkisar  ke lain hati?
Apa aku pikir hanya aku seorang yang ada di hatinya?
Kenapa aku mesti memikirkan orang yang belum tentu memikirkan aku juga?
Malangnya diriku (?!) wake up your mind!  Bisa jadi 'dia' sekarang sudah menentukan pilihan...
Dan belum tentu  itu aku...
Baiklah
baiklah..
aku sadar kalau aku hanya gadis, yang hanya bisa menunggu, menyongsong, atau menutup rapat-rapat pintuku...  Sadar dan ketahuilah! kalau aku menyerahkan diri itu sama artinya aku membinasakan diriku sendiri....  Semoga ALLAH selalu melindungiku dari hal sedemikian.

Sesungguhnya, kewajiban seorang laki-laki  yang mendatangi...
Berarti, bukan hanya dia saja kan yang punya hak? laki-laki yang lain juga punya hak?
Dan aku tidak boleh menghilangkan hak itu, aku hanya punya hak memutuskan.
Akhgrgh... andai semudah menolak... namun ternyata aku juga merasa telah menyakiti...
seorang laki-laki dengan dada tengadah dan mempertanggungjawabkan perasaannya telah aku hentikan kemauannya... Berapa kali aku mencoba menghempas cita-cita mereka di tengah perjalanan?  aku tak ingin menyakiti lebih banyak lagi, meski dengan pengertian dan kehati-hatian sekalipun, tetap aku merasa bersalah... Ya ALLAH sampai kapan hal ini akan berulang?
Namun aku juga menahan hati, apa yang akan aku lakukan jika menerima begitu saja hanya  karena enggan mengatakan "TIDAK!"
Seberapa jauh mereka akan memahami diriku sepenuhnya?
Haruskah gerbang itu selamanya tidak akan kumasuki hanya karena menungguku yang terlalu pemilih?

Sekali lagi aku tidak memilih tapi dipilih!

Kadang, jika aku tak mampu memberi gambaran perasaan yang bergejolak 'alangkah baiknya aku memilih didorong ke jurang yang curam dan terjal daripada menyakiti hati  seorang yang  berani menyatakan perasaannya!" atau aku bisa saja marah pada semua orang tanpa sebab jika apa yang mereka lakukan tidak berkenan di hatiku...  lalu cepat-cepat aku menyingkir dan bersembunyi sekedar untuk menenangkan diri... Ya ALLAH ada apa lagi denganku... aku kecewa tapi bukan begini caranya menghadapi persoalan. Bukankah aku seorang muslim? Inikah gambaran seorang muslim?
harusnya aku tidak mengikuti perasaanku saja
Harus ada pula penalaran
dan pertimbangan lain...
seperti nasehat Ustadzah dan temenku yang sudah jadi Umy;
'Say, lebih baik dicintai...'
iyah, mencoba mencintai...
ingat kan cinta itu action bukan sifat bukan pula kata benda...
hal yang tak sanggup pula aku kemukakan pada Ayah-Ibu bahwa aku punya keinginan ikut suami nantinya dan memulai membina rumah tangga,  tak dapat dipungkiri  rumah tangga tanpa campur tangan orang lain bahkan ortu sendiri meski tidak lepas hubungan. Dan aku ingin kebersamaan itu

'pedihku' by Fiq Canovea

Betapa ujian ini begitu berat
amanah tentang 'rasa' ini menyadarkanku
Ya ALLAH...
betapa rapuhnya hamba
akhirnya
apa dayaku tanpa Rakhmat dan pertolongan_MU
hanya bisa aku pasrahkan rasa ini kembali kepada_MU ya ALLAH


Bagaimanapun, aku punya hak tawar
penawaran itu tak ternilai dengan materi
dan hal itu adalah kerelaanku untuk melangkah bersama
dalam bingkai yang diridhai ALLAH SWT tentunya...