Kamis, 29 September 2011

Bertahan

Judul nasyid dari Amolle Voice 'Bertahan' menginspirasiku untuk memberi judul yang sama untuk catatanku  !



from : Maidany 
'Jangan Jatuh Cinta'

Mendengar snandung yang lagi hits akhir2 ini, ditambah salah satu status yang jadi tema G-Line di radio Dynamic Muslim Station hari Selasa, 27 Sept 2011 kemarin jadi bikin tambah galau. Sebenarnya tema yang semacam itu nggak hanya sekali itu aja, dech (tema apa , sich?)  Yah.. kayak snandungnya Maidany diatas...
jadinya aq merasa terintimidasi (lha aku berada di pihak yang tersalah) ehm... menjadi pihak yang menolak, biasanya akan disalahkan... Benar nggak, sikh?


 Merah jambu...
Tema yang nggak ada habisnya dibahas, dan ada saja bagaimana cara mengurainya dari segi manapun (Eh!!)
Fokus... Fokus... Fokus!!!


Sekitar dua pekan lalu, dengan senang hati nemenin Mami-ku ber-sillaturakhim ke rumah Mbah (Simbah ini dulunya pengasuh Ibu waktu masih muda) sekaligus aku berlebaran ke rumah pengasuhku yang tak lain anaknya Simbah.
Aku tidak akan mempermasalahkan masa lalu mereka(crita dari ibu, bahwa mereka dulunya jadi 'Mbokmbok'an) karena masa sekarang, Inangku tersebut berumahtangga, punya suami, menjadi orang tua angkat, dan dari anak yang 'diopeni' punya dua orang cucu.

Kesempatan Emak(biasa aku panggil beliau) berbincang denganku ketika Ibu berada di biliknya Simbah. Emak istilahnya 'ndhedhes' (=meminta keterangan). Aku rada terkejut dengan pertanyaan Emak tentang apakah aku Islam atau salah satu ormasnya yang selalu menyelisihi keputusan Pemerintah (=yang dilihat orang awam memang seperti itu). Tentu saja, aku memilih ISLAM. Justru kerabat yang notabene telah ber-agama(ngakunya) telah menuduhku jadi salah satu pengikut. Karena tudingan ini pula, ada ketidakharmonisan dengan beberapa kerabat dekat. Hanya karena aku segan bersalaman dengan sepupuku sendiri. Kerabat dekat namun bukan muhrim lagi. Yang seharusnya masalah itu bisa terselesaikan, dan aku sendiri sudah minta maaf  dengan adanya momen lebaran (ALKHAMDULILLAH)  Malahan, para piyayi2 sepuh ini tidak juga rukun  >_<  Ya ALLAH semoga ada penyelesaian terbaik dari percik kemelut ini... AAMIN y RABB

Pertanyaan yang juga membuat aku terkaget2 juga tentang, apakah aku sudah punya pandangan. Aku jelas gelagapan dapat pertanyaan itu.  Dan aku tidak bisa berbohong tentang hal itu, memang aku sudah punya pilihan.
'Tapi belum pasti!' aku kasih notice dalam kalimat ini.. Ayolah!
Aku harus realistis! Memang si dia belum mengajukan apapun yang ada hubungannya dengan diriku    T_T
Berarti  'Durung, tho?'
Tentu, aku hanya menggeleng pasrah, ya memang belum, kok!

Aku jua menyadari bahwa seorang laki-laki bisa saja melamar lima gadis sekaligus dalam waktu bersamaan, tapi bagi seorang gadis... hanya boleh menerima satu pinangan, kecuali kaalu ada kerelaan si ikhwan. Untuk berproses dengan yang lain, dan kayaknya itu jadi perselisihan kalau sampai terjadi. Makanya, wanita hanya bisa menerima satu proses. Dan bisa menerima kembali bila proses tidak berlanjut...

Lalu seperti apa, sih hubungan yang aku inginkan? Bahwa aku tidak ingin berpacaran sebelum menikah, gandengan, main2 ke rumah, hubungan yang nggak jelas, tete-em-an, apalagi sampe nginep? rumahnya calon? belum halal, lho? banyak contohnya dan sudah menjadi pembiasaan... Naudzubillahimindzalik
Pacaran itu yang sudah dalam bingkai pernikahan, gandengan dengan sang pacar yang telah resmi jadi pendamping, dan dalam hubungan yang sudah dihalalkan.

Aku sempet curhat mengenai 'tembok yang punya mata dan kuping'  (Ingin tau maksudnya? baca edisi (eh) tulisan berikutnya... TRIMS

Terus, apakah boleh kalau, semisal, seumpama, andaikata, ada laki-laki yang ingin berkenalan?
'GLEKK' aduh, setelah berterusterang seperti itu, kenapa aku langsung dapat pertanyaan bak petir menggelegar???
Aku diam
Namun pertanyaan itu diulang kembali ketika sudah bersama Ibu, rame2 di biliknya Simbah.
Gimana?
rasanya owel (ndak terima)
"Nggih, sak' kersa???" 
(duh, kalo aku sedang sendiri, pasti aku sudah berderai-derai, aku pantang memperlihatkan airmataku ke orang)
"Bapakne malah dhawuh! Nek, tenanan, ya, lek nembung, kepriye carane!! Sapa sing dishik!"
(=Bapak menyuruh! Kalo beneran, buruan meminang, bagaimanapun caranya! Siapa yang duluan!)

Astaga, Mami!.. siapa yang duluan?

emang lotre!!! Aku protes ke Ibu setelah berada di rumah.

Jadi, apa aku percaya 'ngendikane' Inangku??? Ibu seolah ingin mengakhiri pembicaraan.
Sampai kutulis ini, itu masih jadi pertanyaan... justru hatiku makin tak karu-karuan... Ya ALLAH  jangan palingkanku dari-MU...

YAng duluan...
keliatan, batang hidungnya saja tidak... gimana mau duluan?... Apalah arti kata-kata! Buktinya mana?

*****
rada menggelitik tentang 'kriteria'
lho! sekian lama menanti, kriteria itu muncul bukan dengan sendirinya. Berbagai liku kehidupan merumuskan sosok ideal yang bagaimana, sikh yang diharapkan
#... dudu bandha dudu rupa.. y mung rasa.. #
duh.. duh.. kalo sekedar rasa suka, kan bisa menjerumuskan.. jadi cinta buta.. nggak obyektif lagi, istilahnya kalau lagi jatuh cinta' tahi kucing pun rasa coklat'.. yiiyhh.. NAUDZUBILLAH.. udah tau najis dan haram malah dihalalkan.. ya.. jangan sampai kita jadi sedemikian. Lindungan_NYA selalu kita harapkan. Makanya, menentukan kriteria dan berkonsekuen menjadi pilihan.

Rasulullah SAW pun memberi tuntunan mengenai hal ini yakni 4 hal bila seorang muslim memilih calon pendamping maka pilihlah:

yg cantik parasnya, dari kekayaannya, dari keturunannya, dan agamanya.

Bila semuanya tidak berkenan di hati maka pilihlah yang paling baik agamanya. Yah, agama menjadi yang ditekankan disini.. jadi agama_lah yang diutamakan karena dalam hadits dinyatakan yang kira2 pengertiannya, bahwa laki2 yang sholeh jika tidak mencintai tidak akan men-dzalim-i istrinya, dan jika mencintai istrinya, seorang sholeh akan memuliakan istrinya... Istiqomah-kan pilihan pada Dien-MU y ALLAH... dan ujian yang kuhadapi, laki2 yang mau serius dari kriteria yang diharapkan meski aku sudah ajukan pada mediator. Eh, pantang mundur! pengajaran buatku juga, ding, untuk tidak menyerah sebelum berusaha! tapi.. harus tau diri, dong ~_~ cerminan juga buatku T_T
pokoknya, mah, ARTIS bukan sebutan, doang, lho... tapi Agama Rupa Tahta Titisan, biar gampang ngingetnya.

Menelisik kembali masa lalu, ada kesyukuran jua kerisauan 
Jatuh cinta waktu SMP... sosok sempurna, pintar, supel, ganteng. Tiap kali ada kesempatan bertanya tentang dia pada Murobbi-ku yg ternyata Murobbi-nya skluarga.  Yang membuatku tergetar, sih, saat ada pertanyaan tentang satu idola, dan dia membuatku kagum dengan jawabannya. Lain, terasa istimewa karena dia menyatakan bahwa tokoh favoritnya adalah 'Rasulullah SAW. Dan.. ada jawaban dari rasaku waktu itu, dia.. berdiri di lorong kelas, sengajakah dia melongok ruang kelasku yang sedang dipergunakan ujian akhir kesenian.  Aku baru keluar dari kelas dan dia  berada  disana, diam menatapku dengan pandangan yang sukar dilukiskan.. sungguh, hal yang tak bisa aku lupakan begitu saja.. namun.. reflek.. aku menunduk.. aku berbalik, otakku menuntun langkahku ke arah lain meski jalan keluar gerbang sekolah lebih jauh.. Kecewa? setelah tau ilmu agama justru aku bersyukur atas perlindungan ALLAH waktu itu.. Jadi inget lagunya Anggun
#.. tersenyum di depan cermin.. ternyata memang masih kecil.. takut... #
Ah... dia juga pernah membuatku kesal.koq...
Waktu itu, ujian praktek untuk Pendjas.
Waduch... kemana temen2, nih... aku ditinggal sendiri? mentang2 udah dapat giliran... Andai huruf awalku 'A' atau 'F , kan aku dapat absen di awal awal.. .
Bayangin! yang di hadapanku adalah Bapak Guru dengan senyum ramah, sikh.. dan dua siswa OSIS yang bertugas mengawasi kalo2 ada 'accident'... yee... salah satunya.. 'dddiaaaa???
E.... Ge... Pe.... MMAjUU!!!
Ingin dapat nilai 'nol'?
Makanya... 'MAJU!'
Roll depan.. roll belakang.. plus kayang... lancar...
"Wah...( ") bisa liat ituh...."
(") dia menyebut nama temennya? Aku melakukan gerakan terakhir, ya... di depan temannya...
Ihhh... ingin aku tampar mulutnya... Ughhh...
Duch, kayak'apa mukaku kala itu? sampai pak Guru pun berdehem-dehem...
KAbbbuuuurrr!!!

Ya ALLAH bersihkan hatiku....
Tenang!!! dia udah married, kok, kira2 dua tahun lalu...

Aku salut pada mereka yang memutuskan menikah setamat SMP mengingat usia karna sering tinggal kelas. Lagian, melihat dan mendengar kisah mereka yang pacaran, aku bener2 nggk respek. Mau dibawa kemana hubungan 'geje'begitu.. aku juga risih dengan temen yang demen bikin aku semakin membangun tembok tinggi2 buat yang namanya laki2.. bahkan diajak bercanda pun ogah. Nggak penting banget, sikh!

Cinta pertama nggak mudah dilupain, 
di SMU sampe ada temen akhwat usil ngirimin surat cinta seolah2 dari cowok.. dia heran sikapku yang pendiam dan dingin...
Selepas SMU
 masa2 kuliah, laki2 adalah makhluk yang harus diwaspadai. Hah, ada yang perhatian.. smoga ALLAH Berkenan memberinya hidayah ISLAM.. dan ada yang kurang ajar berani menyibak kerudungku di hadapan temen2?? aku baru belajar memakainya, Alkhamdulillah ikatan kainnya kencang dan menutup rapat mahkotaku.. smw sudah tau kalo dia playboy, baru saja dia jalan sama akhwat yang berkerudung juga, parasnya juga cantik. Dan cowok itu memamerkannya... Haddeh... ck.. ck.. ck.. Lalu ada obrolan seru, kok, tau2 ngomongin tentang yang pake jilbab hanya di sekolah sedangkan di rumah tidak(role modelnya kayak gitu, ya.. aku nggak bisa mangkir, memang di rumah, jilbab aku lepas). Nah, temen dekatku, nih, mbicarain aku yang aslinya lebih cantik kalo nggak pake kerudung (ASTAGHFIRULLAH) kebalikannya temenku lebih pe-de dan cantik saat memakai kerudung. Alhasil, cowok PB tuh, mungkin ingin tau, tanpa dinyana langsung menarik ujung jilbabku;

"Kenapa tidak kau lepas saja sekarang?

Karunia ALLAH dan semoga Istiqomah dengan mengamalkan ayatnya yang termaktub dalam QS. AN Nuur (24) : 31 dan Al Ahzab(33): 59
Di rumah pun aktif di remaja masjid meski anggota baru, namun kenapa harus ada hal yang mengusik niatan? bener2 aku kecewa, kesal, mau marah tapi pada siapa.. anak kecil tau apa sich? SD aj blum lulus? sedang bahagia Ibu mulai mengerjakan sholat, dan berjama'ah d masjid, mimpi apa aku kemarin, tiba2 ada yang nyeletuk

"tuh.. pacarnya(")"

(") Hah, anak2 itu nunjuk siapa? kupingku panas mendengarnya, seorang alim tidak pantas untuk dihujat. Ditambah lagi, temen2 memang sudah keterlaluan kalo berkelakar. aku nggak punya kapasitas untuk mengingatkan, paling diam lalu pergi nggak pamit. Mogok kegiatan sebagai protes sampe memandu kajian aja aku harus bertanya pada yang senior tentang apa yang harus aku ucapkan. Aku sadar dapat teguran meski tidak menunjuk diriku langsung dan dengan kata bijak' tidak boleh berprasangka' Duch.. aq nggk profesional banget, yach.. dan Ayah_Ibu membicaraknny baru2 aj
let's continues
 dulu, beliaunya (sebut saja Ustadz) berkunjung ke rumah, sebenarnya ingin menyampaikan maksud. Mungkin, karena usiaku masih terlalu muda (belum genap 20) beliau tidak jadi mengutarakan, kemudian hanya ber-sillaturakhim dan memintakan maaf untuk temen2 remaja masjid yang memenuhi undangan jamuan makan2 di rumah. Owh... jadi rasa kesalku ternyata beralasan... baru2 ini aku mengetahui kebenarannya, dong???
Ada lagi, perhatian dari murobbi 
kali pertama, anak murobbi yang berniat memperkenalkan teman kerjanya padaku... yang akhirnya diketahui tidak disetujui oleh ortunya sendiri lalu dijodohkan dan sekarang udah punya momongan. Aku?? Berssyukur...
Murobbi
kali ini, beliau memperkenalkan ikhwan, namun Ayah yang tidak sreg, seolah ikhwan tersebut tidak berniat 'ya.. iya.. ora... ora... .. 'ora ngepenke'
(maksudnya hanya main-main, tidak bersungguh-sungguh)
' sepertinya ta'aruf  baginya  hanya sambil lalu
Murobbi menyempatkan dateng! aku memang memutuskan 'menolak' karena saat berpamitan, ikhwan  tersebut kekeuh menyalami tanganku meski aku sudah memberi tanda untuk membalas uluran tangannya(eh) ikhwan tersebut tidak menurunkan tangannya, hatiku tidak rela (perang batin) membiarkannya atau menyambut? dengan berat hati (Y ALLAH Ampuni hamba ini) membalas lalu kumantapkan saat melepas genggaman itu kuputuskan juga jalinannya, tidak berharap akan bersambung lagi... selamanya ..Tidak!

Anehnya..
aku mendengar desas-desus, kalo aku akan mengikat hubungan dengan anak murobbi???
Lho, darimana mereka menyimpulkan apa yang terjadi?
Realitanya sedemikian... halnya..., kok, jadi kabar yang bikin resah itu yang beredar, seolah yang di luar rumahku, tuh, lebih tau???
Ya... aku memang tidak dekat dengan lelaki manapun... tidak suka 'gojegan/bercanda'
Hubungan dengan keluarga murobbi, ya... memang dekat... aku memang niatan menuntut ilmu di rumah murobbi... dan kedekatan dengan keluarganya kakung, putri, dan putra2 mereka , ya, nggak mustahil... ternyata ada selenting suara bahwa aku' ada apa-apa' dengan putra murobbi sudah ada dari dulu, namun aku tidak peduli sampai aku menyelesaikan juzz terakhir bacaan Al Qur'anku... setelah itu... aku baru 'ngeh' dan mulai menjaga jarak.

Kalau masalah kriteria, ada hal yang membuat aku ragu... karena sudah dianggap 'orang pintar' .. pengetahuan tentang hal ghaib itu yang bikin aku jadi takut... Bukankah hal yang ghaib itu hanya ALLAH Yang MAha Tahu... kita diberitahu melainkan hanya sedikit... Dulu, pernah di  masjid, di sela rehat aku dengan rela mencabut sehelai rambutku untuk mainan tentang ruh2an, ada yang memandu... Namun dulu sebelum aku tahu, kalo dulu, kan aku ingin tau... begitu sudah tau  ASTAGHFIRULLAH... AUDZUBILLAHI MINASYAITHAA  NIRRAAJIIM...
Btw, soal melamar...
Mosok melamar?
yang bener saja? Yang bener, tuh, ber-sillaturrakhim (ba'dan) lebaran... ada yang dateng sendiri. Kebetulan, bersamaan juga dengan kerabat jauh, nih, yang datang sekalian sekeluarga(=pasutri dengan kedua putrinya)... Ya... nggak biasa2nya, sungkem sama Ayah dan Ibu... cuma itu! nggak ada pembicaraan apapun  dengan hubungan dengan diriku...

Segitunya...
kenapa di luar tembok lebih tau apa yang ada di dalam tembok???


SUBHANALLAH ada yg ingin ta'aruf lewat perantara, saudara jauh sekaligus tetangga dekat.
dari profilnya, masuk kriteria, nih! tapi, kenapa hati jadi menolak? atau belum siap dengan cara ta'aruf sperti itu?
atau sudah ada yang lain, mengisi relung hati?
semua alasan turut andil ternyata...

Yah, jika berharap 'yang satu' itu datang, ternyata 'dia'  ini yg datang (enggak datang, sebenarnya) yang datang dengan pengajuan kesiapan menjadi... suami adalah perantara.
T_T
koq, nggk ada yang tanya perasaanku, sih? Biar ALLAH Yang Tahu...
Tunggu, selidiki! pahami situasi! sebelum memutuskan! (HughFtt..) sulit jg menasehati diri sendiri, syukurlah mw jg dinasehatin... Gitu, dong! Beri 'dia kesempatan untuk menunjukkan siapa dirinya(cie)...
Senengnya (beneran, sueneng!) saat ortu mengundangnya untuk datang ke rumah. Perantara yang menyampaikan, jadi batal karena terlalu malem, bertandang ke rumah koq malem2?
  • dari 'Jabir r.a. : Rasulullah SAW melarang orang datang ke rumah keluarganya pada waktu malam ( HR. Bukhari Muslim) 
-ngapain dia seharian di rumah tetangga(yang jadi perantara)? baik hati benar perantara satu ini, menyampaikan maksud... tapi aku udah illfeel...
mau diterima, kok, men-zalimi diri?  tidak diterima? jadi beban di hati? Aduh, baru segitu aja dah sakit hati... Tidak!!

ajaib, kenapa ortu jadi memberi label' calon menantu tunggal' padanya???
hah, kalo syarat datang ke rumah untuk ta'aruf dari ayah? dia, kan nggak dateng?
kuharap Y ALLAH, Semoga ini hanya mimpi
Oh, bisa jadi  karena sms balasanku dia nggk jadi datang...
Baik,
siapa bilang aku tidak menguji?
padahal, yang berhak menguji adalah pria...

'aku memang butuh teman, yang banyak... Semoga bisa maklum'

kurang lebih seperti itulah balasanku, kenapa?
Memang aku membutuhkan teman 'hidup' dan seperjuangan. aku juga tidak ingin kehilangan teman. Hanya karena tidak berjodoh, bukan alasan untuk memutus pertemanan. karena Ibu, kami akrab dengan kerabatnya, kalo tidak berjodoh, bukan menjadi penyebab kerenggangan. Maksudku seperti itu!
aku ingin berteman, tambah teman tambah saudara. tapi jangan sampai  kalau tidak ada ikatan yang terjalin menjadi sebab pemutus pertemanan!
 Hah, aku ini ingin dimengerti! Aku tidak ingin menjadi 'orang asing'  di mata pendamping hidupku!
jangan2 hanya aku yang menginginkan?
endak, deh...

Sudah
Laki-laki punya hak memilih!... Yakinkan, dong kalo mau diterima!  Kalau berharap aku yang menyatakan kesediaan untuk menyerahkan urusan... , sama saja  
hanya mimpi
idih, mosok aku yang menyerahkan?
yah, yang punya inisiatif harusnya laki-laki...
aku sudah tegas, 'TIDAK'!
cukup sekali, walau kau menungguku... percuma! jangan sakiti diri sendiri!
Tunggu punya tunggu! waduh, kayak kisah roman picisan ajah!! Kagak ada cerita... !

Leganya
Ibu akhirnya ngendhika kalau yang satu kerabat, yaitu ikhwan pilihan ortu dan ikhwan yang ortunya mensyaratkan aku datang bertandang sebagai kesediaan menerima lamaran, sebaiknya tidak dilanjutkan....
Tapi...
masih ada tapinya...
apapun bisa terjadi, nanti kalau ada yang berniat dengan sepenuh hati...
??????????????????????????????????????????????????????
  • from Sygma (nasyidnya Riau)
  • 'Istikharah Cinta'


"Sing prasaja wae, lah!!!"
Saatnya mewujudkan impian... yang lalu biarlah jadi ilmu...
Bukankah pengalaman adalah guru yang terbaik.
Yang pasti pasti aja, dech...
Yang belum pasti?
Serahkan segala urusan pada ALLAH
karena kita, makhluk, tidak tahu apa yang akan terjadi nanti




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah perhatian untuk blog ini
Semoga Bermanfaat...
Terima kasih atas kunjungannnya...