Loading...

Selasa, 03 April 2012

Ayah, Maafkan Aku!



Yang Telah Pergi

Ingin mengejar deadline lomba nulis selalu ingat hal ini. Ngutheg halaman awal, belum bisa beralih dari situ hingga nggak juga nambah halaman. Alhasil, lebih baik aku tulis aja daripada kepikiran terus hingga sanggup memecah konsentrasi..  dan merampungkannya setelah deadline bener2 mati garisnya >_<

Yang ingin selalu kuyakini bahwa pasti ada hikmah dalam setiap kejadian. Ya ALLAH… Kumohon mudahkanlah hamba untuk memahaminya…
              
Hari itu seindah biasa *Senin, 30 Januari 2012.. Tugas harian sebisa mungkin aku tunaikan. Aku menyempatkan online, meng-approve permintaan pertemanan, absen di grup nulis, sampai ngucapin  milad di kronologis (*udah kayak kriminal aja istilah’e) salah satu sahabat siar. Dan semua masih berjalan dengan apa adanya.. Hanya Ayah lebih pendiam kurasa.. atau karena menahan rasa sakitnya? Toh, meski sakit pun Ayah masih  ke kamar kecil sendiri. Nampak sehat seolah tidak mengidap penyakit menahun. Yah, memang lebih banyak tiduran dan duduk lama di kursi sambil memantau keadaan sekeliling.
Bertanya hal2 remeh yang kadang bikin sebel untuk menjawabnya. Tapi itulah kepedulian Ayah tentang = siapa yang baru belanja, Ibu bicara dengan siapa, atau beli apa- tak jarang diselingi komentar yang ‘nggak banget’… ya, itulah yang menjadikanku diem tak menjawab.  Aku terpaksa menjawab kalo Ayah jadi duka(marah) karena diabaikan..

Habis belanja, rehat sambil  mencetin hape. Namun seperti ada yang memaksaku untuk selesai lebih awal?
Ayah memintaku memegang( maksudnya memijit) punggungnya ketika pirsa bahwa aku sedang santai. Sayang, aku setengah hati melaksanakan.   Penyebabnya karena kebiasaan Ayah kalau wus mendha (*mendingan) trus, ngerokok lagi.  Mengenai  ini, Ayah memberitau sendiri   tengarai kalau Ayah enggak merokok berarti  sedang sakit.  Aku  rasa hari2 terakhir Ayah tidak merokok, tidak mencium asap rokok sama sekali. Ibu pun  berpendapat demikian. Nglambangi  atau smacam firasat, Ibu memenuhi permintaan Ayah sekiranya bisa semisal dibelikan pisang raja.
Ayah kerasa, pijatanku tidak fokus lalu bertanya apakah aku ada keperluan lain yang harus disegerakan. Aku sendiri juga mau bilang nggak tenang sebelum beli gas ditempatnya Om, adik bungsunya Ayah. Gasnya hampir habis meski masih ada tabung cadangannya yang kebetulan sudah kosong. Tau demikian beliau meminta aku menyegerakan.
Wis, gage.. lhek ndang! Lhek mangkat lhek bali! Ra’ sah kandha sapa-sapa! Nek Bulikmu takon ra’ eneng apa-apa” kira-kira seperti itu beliau memberi  pesan. Tidak seperti biasa aku tidak membantah dan pengin cepet2 selesai urusan gas tersebut.  

Entahlah, aku   pingin ngomong tapi  apa waktu ngambil gas. Kok, jadi pendiem gini? (emang aku pendiem, kan..) Dan aku hanya pingin cepet2 pulang sama Bulik, istri Om. Berjalan pulang.. Kebetulan Bulik, adiknya Ayah juga ada di depan rumahnya ngurusin jemuran karna cuaca lagi mendung. Daripada diem, aku bertanya apakah Umy-nya Al jualan campur. Cuma itu sambil melangkahkan kakiku, pulang. Adzan Dzuhur menyusul, sampe rumah biar bisa gentian sama Ibu jagain warung.. Aku giliran belakangan,  jam satu lebih baru slesei… Hugh, lama buanget kalo masalah bersih2 aku nih >_<
“Ra’ sah kandha sapa-sapa! Tak rasa’ne dhewe! Anak putu aja 'da turun! Muga-muga wae ra’ eneng apa-apa…” 
Ayah… ayah aku memang cuek, ada yang ngganjal di hati kalo Ayah ‘nggresah’  tapi aku inget kata-kata Ayah meski sepertinya aku terlihat tidak menghiraukan. Aku banyak salah sama ayah  aku sering bersikap begitu yang bisa membuat mangkel. Beliau menggeremang sedemikian waktu aku mau mengerjakan sholat sedang beliau duduk  ngadepin meja minumannya. 
Berdesir, takut namun tak mampu berbuat sesuatu untuk membantu melegakan pernafasan Ayah yang sering kumat akhir-akhir ini. Cuaca dingin dan lembab akan memperparah keadaan. Ayah sudah beberapa  kali menyemprotkan cairan propelan (kalo tidak keliru) Memang langsung bereaksi dengan bronkus, tapi… tidak boleh lebih dari dua kali berturut2!. Aku pernah baca aturan pakainya, kontra indikasinya malah otot bronkus jadi kaku? Aduh, apakah efek sempotnya tidak berbahaya? Aku hanya mendengar Ayah sudah menyemprot dua kali, lebih bahkan… Ya ALLAH.. aku hanya bisa memohon pada ALLAH saat2 itu. Karena sebenarnya aku sudah memperingatkan di waktu lain tapi mengapa justru aku kehabisan kata2 waktu Ayah malah melakukannya.. y ALLAH hanya pada_MU hamba memohon… ( note Duh, saat ini 02 Maret 2012 masih merinding habis meng-eksekusi ular warna hijau, kepalanya sebesar kelingking  yang mau masuk rumah… kucingku glodak’an memberitau..  y ALLAH terimakasih atas perlindungan_MU… ALkhamdulillah)
Periksa terakhir, dokter melegakan pernafasan Ayah dengan memasukkan selang oksigen ke tenggorokan.. Begitu cerita dari Ayah, sedang aku yang taunya selang oksigen hanya lewat hidung dan mulut jadi bertanya-tanya... Benarkah?
Karena aku puasa, aku tidak bisa ngajak Ayah untuk makan. Tapi, Ibu bilang kalo Ayah sudah makan sawut singkong anget meski sedikit buat nyenengin yang masak. Beliau ngingetin untuk menanak nasi buat buka. Ibu mengiyakan lalu mbujuk Ayah lagi buat kontrol, tapi karena tanggal2 akhir bulan, belum mau. Dan akhirnya, Ayah mau juga dengan meminjam Embah W putri, nanti kalo sudah gajian dikembalikan. Ayah bangun lalu duduk di kursi menghadap ke selatan di ruang tamu, menunggu, begitu ibu bilang akan manggil Lik J yang biasane nganter. Tentang perubahan kursi... baru beberapa hari ayah memindahnya. Biasanya menghadap ke utara.. Sementara aku nyuci2 peralatan makan, Ayah sempet menengokku, nggak kedengeran beliau bilang apa... kira2 agar aku menyelesaikan kerjaanku. Menjelang adzan Ashar Ibu disuruh menutup pintu warung sambil berjalan keluar memintaku nemenin Ayah. Tidak tau... biasanya aku membantah tapi kali ini  aku segera beranjak karna emang kerjaanku juga udah kelar. Sedari tadi aku sudah mikirin... apa yang akan kulakukan untuk menolong sesaknya Ayah?

Ayah... Ayah sedang kumat sesak nafasnya, dengan segera aku yang sudah ambil gelas mengupas kapsul serbuk habbatus sauda, kutaruh di gelas lalu aku tuangin air panas. Ibu masuk sebentar bertanya padaku sedang mbuatin apa.. tak kujawab lalu Ibu keluar lagi. Aku melafalkan dengan tak bersuara al Fatihah dan ayat Qursi sambil meniupkannya pada isi gelas. Saat itu juga aku hadapkan pada wajah Ayah meski masih membelakanginya. 
'HAghf.. Haghf.. 
Ya.. ALLAH! dari menghentak berupaya melonggarkan tenggorokannya, tubuh Ayah bersandar ke kursi... seketika aku menghadap ke Ayah sambil memanggil dan mengarahkan uap pada gelas yang aku buat barusan berharap bisa menolong Ayah. Aku menyeka peluh di dahi Ayah dengan tanganku... tak pernah kulihat wajah Ayah sebersih ini...
Ampun ya ALLAH... ini ujian dari-MU... tanpa bisa aku remidi.. aduh, kali ini apakah aku lulus dalam ujian-MU yang satu ini... kepanikan dan kebingungan walau berusaha tenang dan berpikir jernih...  teori tentang mendampingi orang yang sedang menghadapi sakaratul maut tetap saja hanya sebuah teori. Ketika dipraktekkan, aku jadi gagap juga T_T
Kapan malaikat Izrail menjemput? 
seperti apa bentuknya?
Tidak ada orang lain, hanya aku dan Ayah yang berada di ruang tamu waktu itu. Ruang yang sering dipakai Ayah untuk menghabiskan waktu, nonton TV, ngerjain sesuatu...

Ya ALLAH ... mengapa ujian dari_MU begitu tiba-tiba?
Sebenarnya aku sudah berusaha mempersiapkan diri dari jauh hari sebelumnya setiap kali aku minta ijin pergi pada Ayah.. ada kilasan2 yang membuatku harus berbenah lebih awal...
Aku gemetar juga, aku berusaha menghilangkannya dengan mengajak ayah ber-istighfar. Aduh, bukannya men-talqin malah teriak2 memanggil Ibu... kontan Ibu terguncang aku tidak tau selain meminta Ibu manggilin siapa saja yang ada.., sudah aku hanya fokus pada Ayah... 

Waktu berlalu begitu cepat...
Ayah mengangkat kedua tangannya setinggi bahu, dan...
Kupanggil Ayah yang terus memejamkan mata, tubuhnya sudah dingin. Kuraba nadi di leher Ayah sebelah kiri berdenyut cepat, seperti air yang mengalir deras tidak seperti nadi biasa yang berdenyut teratur. Kepala ayah miring ke kiri... aku peduli tentang menghadap kiblat. Tapi, aku rasa sudah tepat.. Ya ALLAH... hamba akui kebodohan hamba-MU ini.
                 
          'KLUKC'... gigi palsu Ayah keluar. aku segera mengambilnya.. Ya ALLAH.. perlahan aku bersyahadat di telinga kanan Ayah dan melekatkan wajahku pada wajah Ayah yang telah terasa dingin... INNALILLAH WA INNA ILAIHI RAA"JIUUN...
tangan Ayah sudah dalam keadaan bersedekap... Hamba hanya berharap pada Sang Pemilik Nyawa...
 Tenang... tenang sekali... tiada terlihat kerut kesakitan di raut muka Ayah..
Seolah sedang tertidur..
semoga Ayah meninggal dalam keadaan khusnul khatimah... Aamin ya RABB...

Tetangga yang datang pertama adalah Bulik S bersama penjual ayam potong disusul tetangga yang di depan dan kanan kiri,,, aku meletakkan gelasku di meja.. yang kupikirkan adalah sholat Ashar selagi masih di awal waktu. Perhatianku terpecah pada Ibu dan orang2 yang ingin menyingkirkan segala barang di ruangan agar bisa lebih lapang dan sebagai tempat pembaringan Ayah untuk disucikan dan dikafani. Entahlah, aku juga langsung menghubungi sanak keluarga juga teman2 ayah dan teman2ku yang telah kenal beliau,,, meminta maaf atas segala khilaf dan salah Ayah semasa hidup.... Inginku seperti itu... meski yang keluar malah tangisanku...

Teriring hujan deras yang mengguyur secara bersambung hingga hari-hari berikutnya..

Saat sholat Ashar dan sesudahnya...  menjadi waktu untukku meluapkan beban di hati dan pelupuk mata. Dan tepukan di bahuku... ternyata sahabat sedari kecil mengingatkanku untuk membenahi diri karena sudah banyak orang sanjang.... sebaiknya aku keluar untuk menemui mereka. Dia juga tanya kain jarik, juga ngingetin buat nyimpen barang-barang berharga di tempat aman.


Ayah
membereskan berkas2 yang ditinggalkan beliau, ada catatan2 yang tak mungkin kubuang.. semoga jadi pengingat, 

Ayah tidak ingin menyusahkan yang lain
Mengobati sendiri sakitnya kalau lagi kumat... mandiri..
Begitu pun, kenapa aku masih mengeluh?
Aku bukan anak yang berbhakti.. Maafkan aku yang tidak mau tau kondisi Ayah..
Tidak mau dirawat di rumah sakit... sejelek apapun lebih enak di rumah sendiri, elak beliau setiap kali ada yang menawarkan untuk berobat...
Yang membuatku semakin trenyuh...
di ujung bulan, masih jarak beberapa hari buat ngambil gaji. Kenapa Ayah tidak mau periksa segera?
Padahal masih ada seratus lima puluhan di dompet Ayah? Aku mengetahuinya setelah membongkar peninggalan ayah...
Kenapa Ayah lebih memilih bertahan?
Oh... Ayah...

Sekarang, tak ada lagi yang mengingatkan kami... tanpa lelah.... tanpa jemu justru yang dinasehatin yang seolah tak mau tau... namun setiap kali aku melakukan kesalahan lagi,  tak segan Ayah mengingatkan. 
Biasanya aku pura2 marah bahkan bener2 kesal karna kebiasaan Ayah yang terasa menggangguku... Ayah kadang memang usil.. aku jadi termangu-mangu bila ingat, biasanya  Ayah kesini untuk urusan hajat?!
Makanan dan lauk kesukaan Ayah yang sengaja kubeli, sampai di rumah aku baru ngeh... lhah untuk siapa?..


Ayah
Pembelaku... tentang kepada siapa aku akan Ayah pasrahkan... padahal aku ingin wejangan2 yang Ayah sampaikan pada calon imamku..
Ayah tau tentang diriku...kini hanya tinggal wali pengganti Ayah...
Mengapa ada yang bilang telah datang utusan dengan urusan mengenai diriku?
Mana mungkin Ayah tidak menceritakan padaku atau setidaknya rasan-rasan pada Ibu?
Memang ada yang datang, tapi perihal keluarganya... sama sekali tidak ada hal mengenai diriku...
Ayah pasti langsung membicarakan hal penting pada keluarganya yaitu kami...Dan aku juga ibu yakin bahwa tidak ada pembicaraan perihal diriku...
Ya ALLAH.. kalo masalah ini serius... berarti aku  terdzalimi... kumohon perlindungan_MU ya ALLAH..
Sekarang,  benar terasa arti hadirnya pembelaku... oh, Ayah..
Ayah tau kalau aku diam bukan berarti setuju
jika aku diam bukan berarti tidak mau..
Ayah memerlukan bicara dari hati ke hati denganku.. Mungkin ada hal yang perlu disampaikan namun tidak tau bagaimana caranya supaya tidak menyakiti... Dan aku tak perlu berhadapan langsung dengan yang bersangkutan.

Aku akui keangkuhanku... 
mungkin hanya ingin meyakinkan...
atau sebab aku sendiri tidak percaya akan diriku...
Ehm..
rasanya tidak bijak dan ceroboh bila ada yang bermaksud meruntuhkannya
Siapa  tau hal  itu merupakan perlindungan...
apalagi karena takut pada RABB-nya

aku hanya menganggap hubungan yang serius setelah ada pembicaraan antara orang tua dan orang tua..
Dan persyaratan dari Ayah itu yang aku pegang... tansah dak ugem'i.


Nyadar, aku bisanya ngabisin uang, belum bisa nyari..
Ayah mendidikku menjadi orang rumahan... walaupun kadang tidak terima, mengingat kembali kodratku... aku tak lagi menyesalinya, Ayah! kesungguhanku untuk mengoptimalkannya..
Mungkin ayah bukan teladan yang baik
tapi
Ayah pendidik yang baik..
dan
Semoga ALLAH mudahkan @_@

Ternyata , banyak renovasi yang musti dilakukan untuk rumah...
Betapa, Ayah selalu menekankan pada kepedulianku dengan kondisi rumah. Memperhatikan keadaan rumah  di setiap jengkal tanah... wuaduh... banyak yang harus diperbaiki... akeh sing arep di'angkah'i nanging beane cumpen... sak selot-selot'e.. alon2 waton kelakon... ra'sah ngaya..

Mikul dhuwur mendhem jero... 
Paribasan cakra manggilingan, datan bali kaya wingi uni..
tansah mengarep..
janma hamung bisa anglampahi
apa sing pinesthi
..Mugi  Gusti Kang Murbeng Dumadi
keparenga paring sih Agunging Pangaksami,
Pitedhah ratan kang becik
kagem sowan marak
ing ngalam kelanggengan
Aamin.. Aamin Ya RABBAL'ALAMIN...

--------------------------------------------

Bp. Soehirdjan

Bin Wignyo Soekarto

Lahir : Boyolali, 19-01-1940

Meninggal : Senin Pon, 30-01-2012

 

'Uninga Lir Jawah Mring ALLAH'

***

============================

  • Untuk semuanya, terutama yang mengenal maupun pernah bertemu... jika Ayah saya,

    melakukan kesalahan baik sengaja ataupun tidak disengaja... Mohon diikhlaskan jua dimaafkan segala khilaf dan dosa..
  • Terima Kasih... Nuwun...




from: album keluarga