Loading...

Minggu, 11 November 2012

Peran Serta Masyarakat dalam Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi

Peran Serta Masyarakat dalam Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi

Blog ini diikiutsertakan dalam   Juklak Lomba Menulis Nasional

Pengertian korupsi dalam kamus  wikipedia Indonesia secara harfiah adalah perilaku pejabat publik, baik politikus maupun pegawai negeri yang secara tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.
Dalam pengertian luasnya, korupsi  adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk kepentingan pribadi.
Info lebih lengkap tentang seluk beluk korupsi bisa diakses disini=  Pengertian Korupsi dalam Wikipedia Indonesia
Ternyata, apa yang dikatakan sebagai tindak korupsi itu dapat dilakukan dalam berbagai bentuk. Penyimpangan-penyimpangan ini tentu tidak terjadi begitu saja. Mulai dari hal kecil dan oleh perorangan yang kadang tidak berpengaruh pada lingkungannnya sampai  akhirnya menjadi masalah besar jika melibatkan sekelompok orang bahkan golongan. Perilaku menyimpang itu  sebenarnya memang sudah ada dalam setiap masing-masing individu baik yang disadari maupun tidak. Dan perilaku tersebut adalah cermin dari kesalahan pemahaman seseorang tentang beberapa hal yang memang sudah menjadi perilaku secara turun-temurun. Berikut kebiasaan tertentu manusia sebagai makhluk sosial yang berpeluang menyimpang=
  • Berterimakasih. Setiap pertolongan orang lain kepada kita, tak enak hati rasanya kalau tidak ada terima kasih. Biasanya, sebagai tanda terima kasih diberikanlah sesuatu. Bisa berupa uang, makanan, atau imbalan jasa yang lain. Apalagi dalam hal permintaan bantuan. Unggah-ungguh yang mapan untuk berterimakasih kepada orang yang berjasa, namun bisa  menjadi penyimpangan bila yang memberikan jasa ternyata mempunyai pamrih. Dalam hal ini ungkapan terimakasih akan diperhitungkan dengan materi. Kadang tanpa malu meminta imbalan secara terang-terangan bahkan melebihi nilainya dari jasa yang telah diberikan.
Sudah menjadi tabiat semenjak zaman nenek moyang mempunyai rasa ‘pakeweuh’ Berterimakasih sebagai bentuk keseganan.. Rasa segan berdampak positif bila diterapkan saat menerima pemberian yang tak sepantasnya ia terima.
  •  Merasa Kurang Belum puas terhadap apa yang dicapai, sebenarnya baik untuk mendorong manusia bersemangat dan barsungguh-sungguh berupaya menggapai pencapaian tertinggi.
Tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup seringkali menjadi dalih seseorang untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya. Dan, ukuran cukup bagi satu dan yang lain juga berbeda. Jika satu keluarga sudah merasa cukup dengan rumah dan sebidang tanah garapan, lain halnya bagi keluarga lain akan kurang memadai meski tinggal di rumah luas, mewah ,dengan beberapa mobil. .
Hal yang menjadi masalah, jika kekurangan seseorang mendorongnya untuk mengambil jalan pintas mengambil apa yang tersedia di hadapannya. Parahnya, apa yang diambilnya ternyata bukan miliknya. Bayangkan, jika perilaku ini dilakukan  pegawai yang diamanahi keuangan sekolah, misalnya! Bisa dipastikan, uang yang seharusnya untuk kepentingan pendidikan sekolah tidak tersalurkan sebagaimana mestinya. Murid atau siswa kesulitan memenuhi biaya pendidikannya sementara hak yang seharusnya sudah dapat diterimanya malah diselewengkan. Ya, gaji guru, katakanlah, kecil. Tapi bukan berarti menjadi alasan mengambil sesuatu yang bukan miliknya, kan?
Keengganan menerima sesuatu yang bukan haknya dan hanya orang yang merasa cukup dengan keduniawiannya akan mampu mengamalkannya. Sayangnya, seringkali sifat manusia yang serakah menutup kesadaran hingga melunturkan rasa malu.
Apa saja persepsi  dari seorang yang diberi amanah kekuasaan=
  • Paradigma yang salah bahwa pemimpin itu dilayani. Watak pemimpin merasa berkedudukan tinggi diantara masyarakat. Padahal masyarakat yang memberi kuasa padanya. Sudah sepantasnya pemimpin itu menjadi abdi masyarakat bukan sebaliknya, malah mengabdikan masyarakat bagi pemimpin.
Kareana bisa dihitung dengan jari, pemimpin jadi merasa lebih dan berbeda dari yang lain. Untuk itu mereka ingin mendapat perlakuan istimewa. Kalau menyadari, para pemimpin tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa ada peran masyarakat. Dalam masyarakat maka sosok pemimpin itu baru dapat hadir. 
  • Kecenderungan masyarakat awam yang sudah seharusnya patuh pada pemimpin. Bawahan memang harus patuh pada pemimpinnya. Tentu saja terhadap pemimpin yang punya kredibilitas dalam mengkoordinir segala bidang yang menjadi tanggung jawabnya dan berlaku sebaliknya apabila pemimpin menyeleweng dari tatanan yang berlaku. Untuk itulah,masyrakat menjadi bagian pengontrol yang baik. Mereka punya hak untuk mempersoalkan dan menggugat setiap penyimpangan yang dilakukan pemimpinnya.
 Lalu, apa jadinya kalau sikap kritis dan berani menyampaikan ketidakadilan dianggap sebagai penentang dan pembangkangan? Tak ayal, pemimpin yang berkuasa dan melakukan kesalahan-kesalahan tanpa kekangan akan bertindak sewenang-sewenang.
  • Penguasa is a‘Power’. Penguasa memang punya kekuasaan tapi kuasa tertinggi yang sebenarnya dalam susunan pemerintahan maupun jabatan publik lainnnya ada dalam genggaman rakyat. Lazim bila rakyat berhak menggunakan kuasanya untuk meng-handle kepercayaannya. Dalam hal ini kepercayaannya justru disebut penguasa.
Masyarakat sebagai power of power akan rapuh disebabkan berbagai kepentingan. Beda kepala, beda isi. Beda manusia maka beda pula kepentingannya. Masyarakat yang terdiri dari manusia-manusia dengan segala macam keperluan memerlukan ikatan berupa peraturan. Peraturan tersebut memerlukan pelaksanaan yang tidak akan terlaksana tanpa ada pihak yang diberi kuasa. Itulah lingkaran yang saling melilit. Dan tindaka korupsi hadir dalam benturan perbedaan kepentingan.
 
PEMBIASAAN sejak dini dalam kehidupan yang sederhana adalah satu pilihan. Rasa gengsi dan harga diri yang tinggi menjadi penghalang seseorang seolah tampil apa adanya itu menurunkan derajat seseorang di mata khalayak.  Dan kebiasaan yang menjadi tabiat seseorang merupakan rangkaian pendidikan dalam sebuah keluarga. Dari bagian terkecil dari masyarakat ini perilaku korupsi diharapkan bisa dihindari.
Saya tergelitik dengan ungkapan ‘yang penting bukan apa yang ia dapatkan, tetapi apa yang dapat diberikan untuk negara’. Tulisan tersebut oleh  SH. Mintardja dalam salah satu karyanya. Tentu, terbesit harapan akan kesediaan pemimpin di negeri ini lewat penggambaran tokoh yang beliau ketengahkan dalam cerita tersebut. Yah, semua mendambakan pemimpin yang mampu menjalankan tugas-tugasnya dengan baik sebagai rangkaian pengabdian atas kepercayaan yang diberikan rakyat, dari rakyat, oleh rakyat, untuk kemudian kembali ke rakyat

***.