Loading...

Sabtu, 27 April 2013

Bicara Tentang Wanita


 Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketiga.

Wanita Yang Utama

 Ehm, ‘utama’ itu haruskah jadi yang pertama?
Dalam kamus KBBI [online]
Utama itu memiliki makna : terbaik; nomor satu; amat baik; lebih baik dari yg lain-lain; arti ‘utama berikutnya adalah ; terpenting; pokok
Pertama  : kesatu, mula-mula, terutama terpenting.
Sempat rancu juga saat mencoba memaknai 'perempuan inspiratifku' tapi aku lebih suka menyebutnya ‘wanita yang menginspirasi’.
Apakah wanita yang tenar? ataukah sukses dalam kariernya? Ahli dalam bidang yang digeluti dan mampu mensejajarkan posisinya dengan pria bahkan bisa melampaui?  Iyah, aku bilang hal yang tersebut adalah spektakuler dan fantastis dengan memonyongkan bibir atau senyum sambil nyengir. Bukan under estimade tapi nyaris wanita yang sukses di luar lingkup rumah tangganya tidak sukses menjadi seorang Ibu yang baik. Nyaris berarti tidak semua karena wanita  langka yang  diriku pantas iri terhadapnya tersebut telah menunaikan perannya sebagai Ibu baru kemudian mempergunakan waktu senggangnya beraktivitas  lain nan bermanfaat. Justru, yang biasa terjadi wanita yang punya kegiatan di luar rumahnya disebabkan oleh tuntutan kewajiban, mungkin sebagai pegawai sipil atau karena desakan ekonomi semata, atau alasan klise tidak betah diam di rumah.
Hal yang prinsipil mengingat bahwa wanita sebagai tiang Negara. Madrasah awal  bagi insan dan orang pertama yang ia kenal dan lekat dengannya karena seorang lahir dari rahim Ibu. Secara kodrati, Ibu lah yang meletakkan watak kepada anaknya sebagai buah inspirasi.

Lantas seperti apakah ‘Inspiratif Woman’ itu ?

Tanpa mengesampingkan peran Ayah dan lingkungan yang membentuk karakter  seseorang, jadi maklum bila anak mengidolakan Ibundanya. Termasuk diriku, juga para Ummul Mukminin dan Shahabiyah yang pada mereka dijanjikan syurga. Pada mereka kita bisa meneladani keutamaan mereka sebagai kaum Hawa. Yakni peran sebagai Ibu Rumah Tangga [IRT]. Sebuah profesi yang dipandang sebelah mata namun harus disadari betapa pentingnya.  Seiring perjalanan waktu, baru diriku memahami hal tersebut. Aku ambil hikmahnya saja mengapa sampai sekarang masih galau dengan pendamping hidup yang sehati dengan pemahaman yang sama. Berabe juga jika yang namanya teman hidup dengan haluan yang berbeda, terus mau dibawa kemana biduk rumah tangganya ???

Sewaktu masih kecil, aku selalu mengagumi wanita-wanita yang cantik, ramah, berprestasi,  atau mempunyai sesuatu yang menarik perhatianku. Mulai dari seorang yang lebih tua dari aku dengan keramahannya, kakak atau teman yang menjadi bintang kelas, sampai artis papan atas dengan tokoh yang dimainkannya aku sukai. Dan, aku tidak perlu menyebut nama, mungkin malah menunjuk tokoh rekaan saja. Bagiku sudah cukup untuk mengambil inspirasi ketika mengenal mereka.
Kakak atau teman yang menjadi bintang kelas menjadi inspirasiku untuk lebih giat belajar lagi.  Aku jadi geli dan geleng-geleng kepala jika ingat waktu masih sekolah dulu ketika ditanya sama seseorang yang aku kagumi. Sok ‘caper’ jawabanku sehalus mungkin dan tetep dengan bahasa yang membingungkan. Aku heran dengan diriku sendiri bila ditanya lantas memberi jawaban berupa kloe yang masih mengandung teka-teki, tidak to the point. Giliran teman dekatku yang bertanya,  aku jawab  ketus dan berbohong dengan jawaban bahwa aku tidak tahu. Duh  >_<
Beda lagi dengan artis favoritku yang notabene wanita. Dengan segala prestasinya di dunia pentas maupun akting. Menjadi idola banyak orang kelihatannya menyenangkan. Sampai-sampai aku nekat waktu itu, selepas kuliah setahun untuk ikut uji nyali dalam audisi pencarian bakat. Pengalamanku yang nol besar di entertainment tidak kuhiraukan demi ingin mencicipi kehidupan glamour yang mereka tampakkan. Aku perlu bersyukur, ALLAH berkenan membimbingku dari kegagalan itu. Trenyuh dengan teman senasib yang sampai tak sadarkan diri karena tidak mampu menerima kenyataan.  Membuatku berpikir ulang ‘Oh,  diriku tidak selemah itu!’. Apalagi realitas kehidupan artis itu semu. Belum lagi ketenaran yang kadang dicapai melalui skandal kadang bikin aku miris. Sekarang, aku hanya mengambil inspirasi saja dari mereka bahwa untuk mencapai puncak [popular] tidak harus mencetuskan gossip namun dengan prestasi yang mereka rintis dari awal. Begitupun saat kuputuskan untuk mulai fokus dalam menulis, tidak segan memulainya dari awal. Kalaupun mendapat materi dan dikenal, Semoga bukan menjadi tujuan yang mengaburkan niatan awal untuk sekedar berbagi ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat di dunia dan akhirat. INSYA ALLAH


Posisi menjadi seorang Ibu seringkali dikeluhkan mengingat betapa berat tanggung jawab yang dibebankan. Konon hingga terjadi peristiwa dramatis saking rasa sayangnya pada anak dan tidak ingin anaknya menderita sehingga mendorong naluri seorang ibu untuk membunuh anaknya. Aku yang notabene wannabe seorang Ibu bikin was-was, sebegitu berat beban seorang ibu membuatnya kehilangan kendali kemanusiaan yang mempertanggungjawabkan penghambaannya pada TUHAN yang menitipkan amanah kepadanya? Membandingkannya dengan sosok Al Khansa yang merelakan keempat putranya maju berperang membela aam ALLAH  hingga mengantarkan beliau menjadi Ibu dari keempat Syuhada.

Syurga di telapak kaki Ibu ! Rasululllah SAW menyebut keutamaan seorang  Ibu hingga tiga kali. Itulah sebanya setiap perkataan Ibu menjadi bertuah bagi anaknya. Dengan demikian, cerita rakyat tentang kisah anak durhaka'Malin Kundang tidak perlu terjadi. Seorang Ibu dari Imam Besar dengan kebijaksanaannya dalam keadaan marah pun yang ter-dhzahar-kan merupakan doa kebaikan untuk sang anak.

Mari kita renungkan agar bisa menjadi pegangan saat sedang limbung karena pilihan yang sulit dengan membandingkan dua hal yang ekstrim bertentangan berikut :
  • Ingin  menjadi Ratu Cleopatra yang mampu membuat dua macan Julius Caesar dan Mark Anthony bertekuk lutut atau  menjadi seorang Ummu Khadijjah binti Khuwailid R.A .  yang rela meyedekahkan hartanya dan rela hidup sengsara  demi mendukung perjuangan suami tercinta, Rasulullah SAW ?
  • Pingin seperti seorang tenar nan dipuja Marlyn Monroe atau seperti Bunda Theresa yang dikenang sebab memuliakan anak yatim dan jalanan ?
  • Ingin sepintar Malinda Dee yang terkena kasus penggelapan uang nasabah atau meneladani kejeniusan Ummul Mukminin Aisyah R.A. yang menjadi kepanjangan tangan Rasulullah SAW menjadi perawi Hadist, menebarkan ilmu agama?
  • Meniru perilaku istri Nabi Luth yang ikut dilaknat atau meneladani  istri Fir’aun yang sabar akan perilaku lalim sang suami?

Semoga  selalu menyadari sebagai seorang wanita menjadi yang pertama  [dikenal di dunia] bagi sebuah kehidupan generasi sesudahnya.  Dan menjadikannya sebagai yang utama [mengenalkan dunia] dalam perannya… Dimana Ibu dan Istri adalah tugas yang utama bagi wanita.  Adalah ‘wanita inspiratif’ bagiku yang mampu berperan sebagai Ibu, maka ialah wanita pertama yang dikenal anaknya dan yang pertama disamping suami.