Loading...

Sabtu, 13 April 2013

Catatan Tentang Jamur Barat

Tulisan ini diikutsertakan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama.

Pagi Yang Cerah
Kebiasaanku  pada pagi hari adalah berdiam diri sehabis Shubuh sambil membaca dzikir Al Ma'sturat pagi dilanjutkan membaca Al Qur'an. Kurang dari jam tujuh pagi aku baru keluar kamar. Itupun kalau tidak ketiduran ^_^ Sebagai manusia biasa, tak jarang ada saja godaan dan mengalahkan perhatian pada kebiasaan baik tersebut. 
Suatu pagi,  Ibu memanggilku dengan wajah berseri-seri
laiknya baru dapat kejutan hadiah bermilyaran nilainya [ ha.. hai.. lebay !] Sesaat setelah teman baikku semasa kecil pulang ! Karena rumahku terdapat warung sangat sederhana yang menyediakan kebutuhan sehari-hari. Pintu warung yang masih tertutup pun, bila ada yang memerlukan membeli sesuatu 'Ya' lewat pintu lain. Kami cukup bertoleransi terutama ibu untuk para pembeli yang tak lain merupakan tetangga yang masih ada hubungan kekerabatan. Meski, sekali-kali juga dibikin sewot dengan pembeli yang  kurang bertenggangrasa dalam memilih momen belanja. Kadang pembeli tersebut mengetuk jendela kamar malam-malam, yang jelas mengganggu saat beristirahat. Ada juga yang menyela ketika ba'da Maghrib, padahal  waktunya pendek. Seringkali, terdapat pembeli yang tidak menyadari telah mengganggu   pada acara keluarga. Namun, maklumlah dengan kondisi warung yang jadi bagian dari rumah.
"Tadi dapat jamur yang besar ! Untung belum ketauan sama orang hanya temenmu itu yang tahu!" 
Ibu ngendika dengan bahasa jawa yang kental. Tulisan diatas jelas sudah aku translate ke bahasa Indonesia! Aku tak bergeming, melanjutkan dzikirku hingga selesai. Kata-kata Ibu tentang jamur yang besar dan sudah merekah lumayan menarik perhatianku. Satu kegemaranku saat itu adalah membidik kenangan dengan kamera. Kapan lagi dapat  kesempatan mengabadikan bentuk jamur itu? Temuan jamur yang kemarin sudah aku lewatkan begitu saja ! Penasaran! masih menggunakan mukena bersegera keluar dari kamarku menuju dapur. Tak lupa menenteng hape yang dilengkapi kamera dalam posisi ‘standby’.

 Si Merah rupanya tidak mau ketinggalan ikut memamerkan jamur yang payungnya lebih besar dari kepalanya itu. Si Merah atau Oranye ? Aku lebih suka memanggilnya Si Merah disini daripada nama panggilan  khusus untuknya ‘Pekox’ [yang artinya bodoh] nama yang diberikan Ibu semenjak Ping tidak ada. Sebenarnya, dengan desisan ‘Ssst… Sssttt’  kucing itu tau kalau aku memanggilnya dan berlari mendekat.  Berikut penampakan jamur barat itu  bersama Si Merah :
 
jamur barat

Keberadaan jamur ini merupakan karunia ALLAH. Bagaimana enggak ? Tidak semua pekarangan ditumbuhi  jamur terutama jenis yang satu ini. ‘Jamur Barat’ begitu ibu juga  orang-orang  menamainya. ‘Barat’ dalam bahasa Jawa berarti angin besar. Angin yang kadang berubah menjadi pusaran atau yang disebut angin tornado [Jawa ; Leisus] memang berasal dari barat.  Nah, jamur  ini akan muncul saat musim hujan yang disertai angin. Mungkin, jaman dulu payung  dibuat karena terinspirasi dengan bentuk jamur itu.  Di pekarangan kami ada dua tempat yang berdekatan dimana jamur ini tumbuh. Biasanya di sekitar pagar hidup berupa tanaman tetean, samping rumah tetangga.  Entah media apa dan seperti apa bentuknya,  aku sendiri tidak ingin menyelidiki. Ada sesekali rasa penasaran ingin tahu tempat tumbuh jamur itu namun  takut akan merusak keberadaan media itu sendiri. Dari penuturan para sesepuh, sih media jamur barat terbentuk dari  akar atau pokok batang kayu yang lapuk [bahasa Jawanya : dangkel]. Awal musim hujan dan curah hujan meninggi media tersebut menjadi  liang  keluarnya  laron. Jarang, pekarangan rumah terdapat media alami jamur barat. Di pategalan pun sudah langka mendapatkannya. Selama ini, aku belum pernah tau ada pembudidayaan jamur barat. Yang populer diantaranya jamur merang, jamur tiram, dan jamur kuping sebagai home industry. Juga ada jamur ling zhie buat bahan herbal Jika, keberadaan jamur ini sudah diketahui, harus segera diambil. Sebab, dikhawatirkan akan diserang kutu busuk dan  beracun. Entah hal itu sekedar pameo atau bukan, ibu memang cepat-cepat mengambil jamur itu dari media tumbuhnya, menguliti, mencuci, lalu memasaknya.

 
Sempat was-was dengan jamur beracun. Tapi, dipastikan jamur tersebut  aman. Telah lulus uji kelayakan sebagai bahan konsumsi yakni tekstur jamur yang kenyal / liat, tidak mudah hancur, dan bisa dikuliti. Dengan  ukuran bagian lingkaran yang membentuk payung berdiameter kurang lebih 20cm dan panjang tangkainya kurleb 40cm. Jamur yang ditemukan beberapa waktu sebelumnya, mahkota yang membentuk payung masih melengkung ke bawah persis payung tertutup berdiameter kurleb 10cm dan bagian tangkai tepat di bawah  mahkota  terlihat membulat besar. Kali ini, aku percayakan sepenuhnya pengolahannya pada Ibuku. Aku memilih masakan jamur untuk lauk dengan diberi bumbu merica, kemiri, bawang, brambang, dan kecap. Ibu berinisiatif  mengganti kecap yang belum dibuka tutup botolnya dengan petis. Walhasil, rasanya lebih 'mantaf'' meski tanpa tambahan penyedap rasa.
Bahkan sebelum  jamur itu selesai diolah. Datang tetanggga mbawain ikan kakap dan nila ke rumah.  Katanya, ikan hasil lomba  di pemancingan setempat mungkin bawah beringin depan susu murni, Ampel. Pemancingan yang juga tempat bermain anak-anak berupa arena waterboom, menyediakan kolam pemancingan yang diberi ikan, jumlahnya  sesuai  iuran pemancing. Misal, tiga kilo untuk satu kolam terdiri dari tiga pemancing. Kemudian ketiga pemancing itu berlomba mendapatkan ikan di kolam itu. Yang beruntung, tentu pemancing yang paling banyak mendapat ikan di kolam tersebut. Sebaliknya, yang tidak mendapat ikan sama sekali hanya bisa gigit jari. Ibu mengambil satu kilo doang dengan mengganti ongkosnya yang lumayan untuk menukarkan tabung kosong  dengan sebuah tabung  gas isi 3kg.  Alkhamdulillah, lauk yang istimewa untuk hari  itu dan satu dua  hari berikutnya.