Loading...

Minggu, 19 Mei 2013

Begini! Inginku Begitu!


Pembanding yang Setia
 Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keenam 'Dua Sisi'.
ALLAH Menciptakan segala sesuatunya berpasang-pasangan Qs. Yaa Siin[36]:36
Seperti halnya siang-malam, pagi-sore, baik-buruk, kasar-lembut, sadar-khilaf; selanjutnya, seterusnya,  dan sebagainya selayaknya sekeping mata uang mempunyai dua sisi yang tak terpisahkan. Mungkin, kita pernah merasa gamang dalam menentukan pilihan. Bingung mengambil langkah. Atau seringkali berubah pikiran saat mengambil keputusan. Itulah, saat diri merasakan ada ketidaksesuaian harapan dengan kenyataan hingga akhirnya memaksa merubah haluan yang telah ditetapkan.
Suatu pagi, jelang siang setelah melewati pergulatan sengit
antara rasa penasaran, malu dapat gratisan tapi pingin dapat hadiah juga. Berkali-kali mengetuk-ngetuk jari dan mendekat ke radio agar memahami bahasan yang sedang diobrolkan. Kuputuskan, deh.. kirim sms tanpa nama dengan keyakinan si penerima sms dan yang membacakannya on air tahu  nomer dari siapa kecuali kalau penyiarnya memang tidak ingin tahu atau pura-pura tidak tahu #_# [eh] malah dapat buku gratisan lagi @_@ Padahal aku sudah dapat  buku dari penerbit yang sama. Memang, kalau sudah rezeki takkan lari kemana *_^  ho.. ho.. ndompleng nama besar maestro cersil Jawa, darinya aku banyak mendapat pengajaran tentang hidup yang sengaja kusebut di sms.
Belum lagi buku ada di tangan, sudah menyiapkan orat-oret berupa komplain. Idih, baca aja belum ‘dah  komplain seolah sudah tau apa isi buku itu [lho] kan penulisnya sudah memberi garis besar buku yang ditulisnya. Sekarang, lagi ribut bikin resensi dari 4 buku gratis yang sudah di hadapan. Dua buku sudah kelar dibaca, satu yang baru di-resensi sedang menunggu berita dari editor sebuah surat kabar. Untuk kesekian kalinya mencoba memberanikan diri agar tulisan diakui.

Sebelumnya, aku sudah maksain dua temenku buat ngirimin sms pantun jelang milad radio tersebut biar dapat buku gratis. Emang, buku gratis akan selalu jadi buruanku apalagi yang langsung dari penerbit, new fresh from the oven.
Mengingat itu, jadi senyum-senyum sendiri. Sebegitunya untuk mendapatkan buku gratisan ^_^ Hanya satu hal, tentang buku gratis!

Sikap pemalu tapi pingin eksis adalah dualisme yang saling bertentangan dalam diriku. Satu  peringatan supaya tidak boleh menjadikan sesuatu agar bisa tenar seolah langsung menunjuk ke hidungku. Kenapa nasehat itu datang bila aku ingin melakukan sesuatu yang menurutku begitu berarti??? Ah, pikiran naïf jika aku mengelak! Tak dapat kupungkiri, rasa pingin dikenal sering menyelusup dengan sendirinya seiring langkah yang kutapaki menggapai mimpi. Pfiuhh… rasa bersalah yang kadang berpotensi melemahkan kesungguhan berbuat sesuatu yang kumau. Masih terus belajar memilah dan memilih arah yang tepat guna memunculkan kembali semangat yang melemah. Ok’s My Sweet Heart, diakui bukan berarti dikenal, kan?   [>_<]
Bukan satu alasan untuk berhenti sekarang, yukk!


Tak Bisa Diam di Satu Sisi

Adakah manusia sempurna dan nyaris tanpa cela? Pastinya ada, dialah manusia berakhlak mulia Rasullullah SAW. Dimana ALLAH TA’ALA  memuji  beliau dengan karunia berbudi pekerti Al Qur’an, yang merupakan surat cinta bagi seluruh hamba-NYA. Seperti penuturan Aisyah R.A. ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah bahwa budi pekerti beliau adalah Al Qur'an[Riwayat Imam Ahmad] Info didapat dari sini 

Rasulullah SAW, tauladan utama bagi yang menginginkan kebahagiaan abadi di dunia juga di akhirat. Tegas pada kemungkaran namun lembut menasehati. Seperti yang diriwayatkan dalam kisah  bahwa nabi akan memotong sendiri tangan putrinya bila terbukti mencuri. Dan, tatkala datang seorang Arab Badui lalu buang air kecil di areal masjid, sama sekali beliau tidak memarahi dan meredam kemarahan para sahabat karena orang Arab Badui tersebut belum mengetahui batas suci masjid. Beliau hanya memberi petunjuk bagaimana membersihkan dan mensucikan bekas najis tersebut dengan menyiramkan air hingga tak berbau. Jadi merenung dengan kisah yang kontradiktif tersebut.

Akhlak, adalah sikap saat menghadapi ujian. Apa yang kita tunjukkan seketika pas cobaan menimpa. Setumpuk teori kadang terlupa… Ughft! Bagaimanapun, hal pertama yang kita lakukan begitu ujian menerpa menjadi nilai penting. Untunglah, dengan segenap Rakhman dan  Rakhiim selalu memberikan kesempatan melakukan revisi. Dan, tak kalah pentingnya  adalah menyadari kesalahan lalu memperbaikinya. Sisi yang buruk dari dari kita bisa kita rubah ke sisi yang baik jika kita mau, dan sekali lagi itu semua  merupakan :
p i l i h a n.

Sebaliknya, mana pernah tahu kita telah berbuat kesalahan kalau tidak melakukan sesuatu? Pikirkan sebaik mungkin  sebelum melangkah dan Jangan pernah takut berbuat, Beib! Jika memang bukan bermaksud melakukan kesalahan!
Biidznillah…

***