Loading...

Minggu, 26 Mei 2013

Uneg-uneg yang Di-online-kan!


Terapi yang Terbukti Efektif


Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketujuh 'Seandainya Saya Tidak Ngeblog'.
Dulu, sebelum sosial media menjadi konsumsi awam, diary merupakan tong sampah yang paling banyak dibutuhkan. Kenapa tong sampah? Sampah apa memangnya?
^_^
Ah, sering, deh.. aku mbahas soal sampah yang satu ini! Sampah yang akan selalu tertimbun membusuk bila tak dibuang di saluran yang benar.
Bagi seorang penulis bisa saja menganggapnya  janin yang dikandung dalam waktu tertentu untuk dilahirkan. Owh, ya? 
Kalau yang satu ini justru ngerawatnya waktu dikandung, setelah dilahirkan baru dijaga >=<  kebalikan dengan makna yang sebenarnya memang mengandung janin untuk dijaga dan setelah dilahirkan lalu dirawat @_@
Segitunya, penulis menghargai tulisannya dan aku yang hanya mengaku suka menulis tidak pantas gitulebih enak menyebutnya sampah!
Bukan sampah biasa!
Tergantung yang menemukannya lalu memasukkannya ke tempat sampah?
 atau mendiamkannya alias nggak peduli bahwa sampah itu ada?
Atau  memungut dan mendaurulang menjadi sesuatu yang berguna?
Terserah Anda!

Seperti halnya diriku yang tidak mau dipaksa dalam melakukan sesuatu melainkan kesadaran bahwa aku harus maksain jika memang hal itu berguna maka aku pun bukan orang yang suka memaksa orang menyukai tulisanku..
Kalau aku berusaha untuk  menarik perhatian, ya memang sengaja [eh] kadang juga tidak disengaja ding  0_o

Kegiatan menulis sebagai hoby mengisi waktu luang dengan tulisan yang berguna. Lantas, tulisan yang bagaimana? 
Catatan harian yang mudah dan bisa langsung dibuat layaknya menulis agenda maupun jadwal. Sekedar coretan berisi  lirik lagu favorit hingga memo berupa quote-quote yang menbangkitkan semangat kala resah. Kemudian merangkumnya dalam kisah utuh hingga aku memperoleh pemahaman baru... Salah satu cara belajar yang asyik!


Itulah, kenapa sebabnya aku suka nulis diary. Setidaknya, dengan menumpahkannya dalam tulisan aku bisa mendiskripsikan apa yang menjadi pemikiran dan apa yang kurasakan.

Jujur, sulit banget mengeja rasa dan asa dalam bentuk tulisan!

Beberapa kali, aku harus berhenti untuk membaca lagi [Hei!] apa ini yang sedang aku rasakan?  
T A K J U B ! membaca kembali jadi sering takjub. Namun tidak jarang pula menertawakan diri sendiri yang terlalu lebay dalam memandang suatu masalah. Dan ‘lebay’ akhirnya aku ketahui sebagai poin penting yang harus dimiliki seorang penulis. Semakin lebay, bisa dipastikan semakin baik interpetasinya dalam menyelami sesuatu. Apapun itu!
Dan itu pemahamanku yang dangkal tentang interpretasi ^_^



Mungkin Dengan Menulis Diary



Lebay yang mampu merunut jeli sehingga benang-benang kusut menjadi terurai sedikit demi sedikit; Selanjutnya, peer besar untukku mengeksekusinya jadi pahala atau dosa. Tak lupa dalam hal ini memohon petunjuk dari Yang Maha Memberi Petunjuk… senantiasa dimohonkan semoga tiada pernah lalai untuk Mengingat-NYA.

Sampai pada satu kurun waktu mulai mengenal blog? diary maya? curhatan yang dipublikasikan?
Sebentar!
Mempublikasikan curhatan menumbuhkan sentimen pada diri sendiri untuk  tidak sekedar menampakkan kegalauan semata. Dalam tulisan yang sama kuusahakan selalu merintis langkah penyelesaiannya. Dan itu sesuatu!

Dengan menampakkan pemikiran kita pada tulisan menuntut diri lebih cermat ngulik rasa. Yang aku sukai saat menyampaikan sesuatu, mendapatkan hal dan menyelipkan semacam ‘keyword’. Kadang aku sendiri harus mengernyitkan kening untuk mengingat-ngingat kembali apa di balik tulisanku tersebut. Biar aku bisa belajar dari masa lalu dan semoga hari ini lebih baik dari masa dulu.


Seumpama blog sudah nggak ada lagi, bukan berarti berhenti menulis, kan?
Seandainya  tidak ngeblog
kembali menulis diary menjadi pilihan bagiku untuk menumpahkan luahan rasa.
Bukan hanya di blog aku mencoba mencari rintisan solusi, malah dengan diary yang bersifat pribadi  dapat merinci persoalan lebih mendalam. Meski dengan label ‘Pribadi! Bukan konsumsi publik!’.


Seharusnyalah warisan berupa tulisan mampu menambah bekal amalan saat kita tiada nanti!Tak perlu jauh-jauh, mulai dari tulisanku sendiri, dong!!!

***