Loading...

Rabu, 10 Juni 2015

Bukan Sekedar Permainan

Sebenarnya tulisan ini rencananya akan di-upload di BAW  untuk bulan Mei dengan tenggat waktu yang diberikan admin 11-16 Mei. Rencana tinggal rencana karena baru bikin file tanggal 18 Mei 2015, yah.. daripada nggak dapat nilai kan mending pending…
Eh?! Bulan Juni yang ditunggu, OON-ku kambuh 0_o Emang hitungan hari itu ada sepuluh? Jadi yang ada di pikiranku, minggu kedua itu setelah tanggal sepuluh. Nah, lho!?
Syukurlah ada niatan buka pemberitahuan di akun email Yahoo-ku dimana akun FB-ku tertampung disitu… Begitu liat pengumuman sudah ‘Fiction Day’ padahal inginnya aku mau posting di ‘Diary Day’. padahal tenggat waktu yang diberikan admin 08-13 Juni
Ya, sudahlah! daripada harus pending lagi mending sekarang aja share. Semoga disusul teman-teman BAW yang lain. Soalnya aku pantau [Jiahhh! Bilang aja ‘stalker’* yang posting kok satu-satu!? Enggak enak jadi pemenang tunggal tanpa ada pesaing...
***
Kalau biasanya hanya melihat permainan  Bu bi tu [Buta bisu tuli] lewat tayangan TV atau foto dan  membaca keterangannya, saat mengikuti Silbar [Sillaturakhim Bareng] dengan sesama pendengar radio MH fm tanggal 14 Mei 2015 lalu, akhirnya diriku bisa menjadi pesertanya.


Bubitu dilakukan berpasangan berjumlah tiga orang, masing-masing sebagai si buta, tuli dan bisu. Cara permainannya, Panitia memberikan cloe yang diperagakan si bisu kepada si tuli sampai bisa menebak kata atau kalimat yang dimaksud.  Kemudian si tuli memberi arahan si buta untuk bisa mengambil atau menunjukkan kata atau kalimat yang dimaksud. Biasanya, permainan ini dinilai dengan pengambilan benda terbanyak atau durasi yang diperlukan untuk pengambilannya. Bisa jadi waktunya dibatasi dan penilaiannya pada jumlah barang yang didapatkan atau jumlah barang dibatasi sedangkan nilainya dari durasi yang paling cepat mendapatkannya.


Diriku berkesempatan menjadi si bisu dan si buta. Sebagai si bisu pada putaran terakhir untuk menggenapi peserta sekaligus melatih kemampuan non verbal alias bahasa tubuh meski keceplosan juga menyebut produk. Bayangin aja dengan kata kloe ‘Minyak Baby Pink’!
Mending ada alat peraganya seperti warna pink. Baiklah! Akui saja keterbatasan kemampuanku memperagakan  kata-kata  >_<  tapi  dalam visualisasi kata-kata tidak dapat dianggap remeh, kan? 0_o
Ups! Hati-hati dengan kekuatan, siapa tau jadi kelemahan, sebaliknya kelemahan bisa jadi kekuatan!*


Sebelumnya menyempatkan melakukan survei hingga aku memutuskan menjadi si buta karena pengamatanku yang terbatas pada jarak kesekian. Kacamata yang kukenakan tak membantu memperjelas benda-benda tersebut. Mataku telah mengalami low vision. Kasihan yang kuberi arahan kalau aku sendiri kurang jelas.
Dengan menolak melepas kacamataku, aku jadi punya dua pilihan.
He.. he.. sebenarnya aku takut kalau sampai nabrak atau kesandung, gitu 0_o atau kurang jelas dengan pendengaranku. Senyatanya...  Ketika mataku kubuka, hanya bisa merasakan cahaya di mataku. Mungkin seperti itulah keadaan total blind. Inilah pelajaran yang kutunggu-tunggu...
Meski aku secara tak sengaja melatih diri meraba-raba mencari sesuatu dalam kegelapan semisal ngambil lilin dan korek saat mati lampu,  tentu akan lebih mudah jika aku sudah tau tempat yang kuhadapi. Tadinya aku melakukan survei juga takkan menolong sebab benda-benda yang ditaruh, diacak lagi penempatannya.
Tidak ada pilihan lain, pilihan kedua yang merupakan pilihan terakhirku bahwa aku harus sepenuhnya percaya pada yang mengarahkanku. Semoga dia jadi insan yang amanah. Aku mencoba mengenali suaranya yang menyebut namaku dan menyebut nama benda yang harus aku ambil. Sungguh, hal itu sangat membantu. Untungnya, sebutan untuk bendanya umum jadi aku tidak berimajinasi yang aneh-aneh sehingga mudah mengenali barang yang dimaksud,  semisal gunting. Coba kalau  shampo padahal yang ada sachet sedang yang kupikirkan shampo botol 0_o  Rabaan tanganku bisa saja beralih dari benda yang seharusnya kuambil. Memakan durasi, dong kalo gitu....
Maka, aku coba abaikan petunjuk-petunjuk selain partnerku. Uh! Pers**** dengan yang lain...
Selain itu juga menahan diri untuk mencari jalan sendiri. Tetap perhatian dan sejalan dengan mengenali suara yang memberi petunjuk…


Jadi mengingatkanku bahwa manusia saja yang masih bergelimang khilaf dan dosa bisa mengarahkan dan mempermudah pencarian apatah lagi ALLAH sebenar-benar Yang Maha Memberi Petunjuk???


***
from FB Qolbu Sahabat