Loading...

Rabu, 21 Oktober 2015

Bubur Suran Dan Bumbu Tumbuk

الحمدلله   postingan tanggal 21 Oktober ini bisa kudapatkan kembali setelah pening belajar 'trik mencari posting yang hilang di link 'Buka Rahasia blog . Tanda hari blogger yang jatuh pada saban 28 Oktober juga, deh [ups!] itu kan hari Sumpah Pemuda [k'napa nggak ada yang protes? pingin juga si laba-laba sekali-kali ngasih atensi, gitu 0_o yang bener hari Blogger tuh tanggal 27 Oktober. bertepatan juga dengan hari Listrik Nasional.
Blog ini hadir lagi dengan cara copas konten karena trik copas postID gagal, di-crache sama pihak google.
Inilah posting yang sempat menghilang itu :

Banyak cara menyambut tahun baru Hijriyah ini. Untuk kuliner, para priyayi Jawa memasak masakan special. Namanya ‘Bumbu Tumbuk’.
Dinamakan demikian karena bumbunya memang ditumbuk. Hampir sama dengan racikan bumbu soto. Cuma ditambahkan kemiri.

Dalam hal ini aku tidak mau berdebat soal agama meskipun tradisi yang dikait-kaitkan dengan ritual keagamaan selalu menjadi perdebatan yang tak berujung...
Kesimpulan saja bahwa melalui tradisi para Wali Sanga yang diakui mengenalkan ajaran Tauhid di bumi Nusantara. Dari klenik yang berakibat syirik [menyekutukan ALLAH] diperbarui menjadi perbuatan yang lebih maslahat. Hal tersebut akhirnya diwariskan secara turun-temurun menjadi tradisi.
Sekarang! Tergantung pribadi masing-masing memandang tradisi tersebut.
Kalau aku menganggapnya sebagai pengingat bahwa di bulan Muharram ada hari Assyura dan bagaimana bisa disebut bubur Sura dan racikan bumbu tumbuk itu.
Sayangnya, aku belum mendapatkan informasi lengkap tentang darimana dan bagaimana asal-muasal bumbu tumbuk itu ada.
Lagian, belum tentu ingat untuk membuat bumbu tumbuk atau bubur suro tersebut. Juga nggak musti harus bertepatan tanggal Assyura-nya, yang pasti ada suatu kenikmatan menyantap di bulan yang istimewa pula ^_^
Belum tentu pula aku sanggup membuatnya, biasanya ibuku yang rajin. Di jaman sekarang mah nggak ada yang rumit, lha wong kelapa parut bahkan kelapa  sangrai saja sudah tersedia tinggal beli enggak perlu repot marut sampe sangrai..

Jangan memperumit lagi dengan perdebatan tak berujung. Nikmatin sajian yang ada! Toh bahan dan pembuatannya halal dan thoyib. Justru yang tidak boleh malah mengharamkan yang jelas halalnya kecuali bila karena perbuatan yang tak di-ridha-i  [thingking]
***

Bubur Suran setelah mencoba searching by google, ada artikel yang baru aku ketahui 0_o ternyata bubur ini beda dengan yang biasa aku santap selama mendiang Mbah Wandi Putri masih sugeng
Dalam artikel :
http://www.piss-ktb.com/2012/11/2072-kisah-seputar-hari-asyura-tradisi.html
dan 
http://travel.kompas.com/read/2008/12/30/05594790/bubur.suro





Bubur suran itu bubur berwarna kuning. Berupa bubur dari beras yang dimasak dengan santan, garam, sere, jahe. Ditambah jeruk bali, irisan ketimun, biji delima, dan kemangi. Dilengkapi tujuh macam kacang yang digoreng ada sebagian direbus yakni; kacang tanah, hijau, merah, kedelai, mede, tholo, polong, kacang Bogor.

Susunan menu gizi yang lengkap dari karbohidrat, mineral, vitamin, protein, dan seratnya.

Suatu sajian yang dipertahankan secara turun-temurun konon semenjak jaman Nabi Nuh. Ketika itu Nabi Nuh Alaihis Salam dan kaumnya terlepas dari bencana banjir bandang. Dalam persediaan perbekalan yang menipis maka Nabi membuat hidangan dari bahan yang tersedia berupa bubur lalu membagikannya kepada seluruh kaumnya sebagai bentuk rasa syukur dan hari itu bertepatan dengan hari Assyura.

Menu Keluargaku di bulan Muharram
 
from facebook YouandWe
from facebook YouandWe

Masakan bumbu tumbuk ini terasa pas bila disajikan dengan sambel korek[sambel bawang mentah] bersama bubur ‘lemu’. Bubur dari beras yang diaduk bersama santan, diberi garam dan daun salam. Yang biasa untuk ‘dulangan’[suapan] bayi atau menu sambel tumpang.
Wah, kalau menyantap bubur dengan bumbu tumbuk ini jadi teringat almarhum Mbah Wandi. Setiap tahun baru Hijriyah, biasanya membagikan bubur ini ke tetangga yang tak lain masih kerabat termasuk anak cucu. Beliau menyebutnya bubur suro.
Orang Jawa menyebut bulan Muharram sebagai bulan Suro. [Asal dari kata ‘Assyuro’ yang berarti sepuluh. Hari ke sepuluh dari bulan  Muharram. Dimana kita di-sunnah-kan berpuasa di hari tersebut, ditambah hari sebelumnya atau sesudahnya agar menyelisihi dari umat lain karena Muslim lebih berhak.]
Setelah beliau meninggal, Mbah Putri yang beberapa waktu yang lalu berpulang pun tidak membuatnya lagi. Owh, jadi kangen masakan beliau ToT aroma dan rasa masakannya khas. Belum ada yang menyamai aroma masakannya yang khas itu meski beliau pernah mengajari beberapa resep masakan seperti bumbu cha[sayur bening], bumbu rujak, opor… Beda tangan beda rasa...

Berikut bahan yang perlu disiapkan:
• Daging sapi atau thethelan, setelah dibersihkan, didihkan dengan air dan buang rebusan pertama. Ini dilakukan agar mengurangi bahan pengawet atau zat additif berbahaya. Kalau bahan mentahnya segar tidak perlu lah.  Beri air lagi lalu jerang guna dijadikan kaldu dengan menambahkan salam, laos, dan sebutir bawang wungkul, atau bawang biasa juga ndak pa pa.


• Racikan bumbu, sama persis dengan bumbu soto
-Kunir
-Kencur
-Jahe
-Kayu manis
-Kayu legi bentuknya mirip siwak. Semacam ranting, warna kayunya kuning
-Kapulaga
-Cabe jamu
-Jinten putih
-Merica hitam
-cengkeh
-pala
-ketumbar
-merica
**semua disangrai lalu ditumbuk.

*Tambahkan bawang, juga:
-kemiri
-daun salam
-laos
-batang serai
-jeruk purut atau daunnnya
• Kelapa parut, disangrai lalu ditumbuk

Bahan pelengkap:

- Telur dan

-kentang dikukus lalu dikupas
-Buncis

-Kol
-Tahu putih


Bahan pelengkap atau isian biasanya bisa diganti dengan bahan lain, atau bisa divariasikan menurut selera. Disesuaikan dengan bahan yang tersedia, mungkin ^_^ 

:
-tempe gembus yang digoreng terlebih dulu
- atau nangka muda/ 

-atau bunga pisang kepok/
- atau manggar yang dialub’in terlebih dulu.

Penyelesaian:

Semua bahan beserta bumbu yang telah ditumbuk dimasukkan ke dalam panci berisi kaldu. Masak! Beri garam dan gula. Bukan rahasia lagi masakan enak dilengkapi bumbu penyedap. Kalau bisa, sih… mencoba untuk tidak menggunakan bumbu penyedap. Asal pas takaran gula dan garamnya, bumbu penyedap itu hanya memanjakan lidah saja tetapi tidak baik juga buat tubuh...



[*NB: copas dari tulisanku di foto kronologi Facebook-ku]