Loading...

Kamis, 07 April 2016

Bukan Pengakuan Semata

Iqra' image from google

Biru
Bukan hanya buku berjudul 'Biru' yang kupunya
Tentang Indahnya biru langit... laut... gunung yang jauh disana...
Subhanallah
Tapi
Jangan paksa ku bisa tertarik
Meski kaubilang dirimu 'Biru'



Bila rasa untukmu entah dimana
Hendak kemana kucari asa?
Jika harapan telah kukuh
Akankah luntur sebelum terengkuh?
Sungguh!
Jujurmu melukai...
Bukan!
Hanya topeng dari bebal yang menjadi penghalang menuju ke lebih baik.

  • Ilmu dan Agama yang saling berkait dan tak boleh terpisahkan.
 Agama tanpa ilmu bagai berjalan dalam kegelapan. Dan ilmu tanpa agama umpama berjalan tanpa arah... Nubras-nubras.. Nunjang palang! Begitulah gambaran Al Ghazali tentang pentingnya agama dan ilmu.

Alhamdulillah aku dididik dalam keluarga yang berkepentingan dengan ilmu. Salah satunya dengan membaca. Bukankah ayat pertama Al Qur'an arti tafsirnya adalah 'Baca?! 
IQRA'
Bersyukurlah yang dikarunia lancar dalam membaca dan menulis!
Betapa jatuh bangun aku berupaya untuk bisa membaca. Apalagi menulis! Padahal dulu sempat mengalami disleksia. Ketika aku dinaikkan ke kelas dua, Ayahku protes dengan nilai PMP-ku [Pendidikan Moral Pancasila yang sekarang jadi PPKN] merah. Aku dinaikkan karena pakewuh dengan ayah yang seorang guru juga.  Ayahku ingin menanamkan kejujuran padaku kalau aku tidak sanggup dengan pelajaran kelas satu tidak masalah jika harus mengulang di kelas yang sama. Jujur, aku tidak tau apa yang mereka bicarakan tentangku. Tapi ada rasa bahwa pasti ada yang tidak beres tentang diriku sehingga mereka harus bicara seserius itu. Guruku memilih menaikkan aku ke kelas dua sehingga nilai PMP dihitamkan.
Beliau memberitahukan masalahku dalam menulis dan ternyata ayahku mengetahui. Aku tidak tau penyelesaian sepeti apa yang ayah lakukan untuk membantu kesulitanku. Yang pasti makin banyak macam buku berada di rumah.
 Terisak-isak diriku, keranta-ranta menyadari nilaiku terjelek sekelas. Aku mendapat nilai matematika nol besar waktu kelas dua SD, sama sekali tidak ada angka satu di depannya sebagai satuan sedangkan teman-teman lain mendapat nilai diatas angka enam.
Merelakan waktu bermain dan saat tidur untuk belajar atau mengerjakan tugas. Ada rasa berat memberikan tugasku sendiri pada yang lain. Ada rasa kecewa mendapat nilai bagus tapi bukan dari jerih payahku sendiri. Kebaikan yang ditanamkan Kanjeng Rama tercinta.
Aku harus mencuri-curi membaca atau menyelesaikan tugas pada jam tidur dalam temaram.
Akibatnya diriku harus legawa mataku minus.
Dikucilkan oleh teman-teman sepermainan saking rajinnya mengaji[?]
Segitunya malah di-MUNG-ngake???
Mung ngono wae ora isah?
Rinujit-rujit rasa pangrasaku uninga surasaning isi sawijining sms ngenani tulis-tinulis :

"...Itu hal yg ringan yg bisa dipelajari, tapi kalau hanya krn itu ya bgmn lagi..."

hal ringan? Nyatanya emang tidak bisa meski ringan!
hanya karena itu? Hanya??? Nyatanya tidak bisa!!!
H E I ! ! !
Bangun, Woooy!
Kemana saja selama ini?
Mimpi terus selama ini sampai nulis saja hanya jadi bunga tidur doang?
Mengingat bundaku juga harus dipaksa agar mau nulis sendiri. Kelas lima SD Kanjeng Mamiku tuh... 
Mosok? Menyerahkan tugas pada orang lain yang seharusnya bisa dikerjakan sendiri?
Kalah sama anak SD?
 
Pengakuan itu juga butuh bukti!
Ada baiknya yang merasa pintar menyaksikan kiprah Mbah Sadiman asal Wonogiri.
Salah satu yang berhak menerima Kick Andy Heroes Award tahun ini. Penjaga pena dan tinta dengan mengeja tafsir QS Al-Luqman ayat 27 dan QS Al-Kahfi ayat 109.
Berderai aku dalam tawa menyaksikan keluguan beliau T_T

Ada juga Mbah Tuti [Maryati], tukang sapu taman DKI yang berani memarahi pendemo taksi dan angkutan umum hanya dengan membawa sapu bergagang di tangan malah berhasil mengusir mereka.

Proses Ta'aruf Kesekian

Sungguh! Tidak ingin menutup jalan bagi diriku menempuhi proses yang harus kulalui menuju pernikahan. Meski pengalaman demi pengalaman belum mengakhirkan ke batas penantianku dalam pencarian jodoh. Rasa sakit akibat kegagalan sering menakutiku untuk berproses kembali. Padahal mengupayakan melaluinya dengan yang ALLAH Ridhai. Janji Allah bahwa di dunia ini diciptakan-NYA berpasang-pasangan cukup membangkitkan kembali menempuhi proses pranikah tersebut.
Kali ini dengan pengetahuan baru yakni menggunakan proposal. Istilah proposal sudah lama kukutahui tapi belum mengerti penjelasan sebenarnya. Blog Catatan mbak Afifah Afra berjudul 'Proposal Nikah Anti Penolakan' memberikan detail pengertiannya. Mulailah diriku menyusun proposal nikah.
Seorang kenalan ingin men-ta'aruf-kan dan aku memberi syarat adanya proposal. Pihak ketiga atau perantara diperlukan dalam pertukaran proposal. Jadi... Seharusnya pertemuan dilakukan setelah saling menyetujui proposal dari masing-masing pihak ikhwan-akhwat.
Beda dengan yang kualami. Aku bertemu dengan si Ikhwan lantas dia yang mengajukan proposal duluan berbentuk blangko Biodata Ta'aruf yang diisi. Anehnya, si ikhwan jujur isian blangkonya dibantu temannya. Si ikhwan yang pernah di-ta'aruf-kan sebelumnya tapi enggak jadi dan saat itu malah langsung berhadapan. Katanya prosesnya yang kemarin semakin tidak jelas.
Menyadari perbedaannya, sedari awal aku sudah matur kalau aku mau menjalani ta'aruf dalam pengertian sebenarnya. Maksudku sesuai tafsir bahasa Indonesia untuk ta'aruf yaitu kenal. Kenalan yang bila jadi ber-ta'aruf lebih lanjut bisa menjadi suami-istri tapi kalau tidak jadi, aku tidak menginginkan lantas putus hubungan. Aku berharap jika tidak jadi suami-istri bisa menjadi saudara semuslim. Hal itu aku tekankan di awal sebelum proposal diajukan..
Perantara memberikan jaminan tersebut, si ikhwan juga menyetujui dan mengalirlah tanya demi tanya. Di akhir pertemuan tetap aku mensyaratkan adanya proposal. Bukankah aku ingin mempelajari proposal itu seperti apa? Maksudanya proposal dari seorang ikhwan. Sudah di depan mata tuh?  Tapi..??? Niat awalku salah, dong?
Nyelam sambil nyari ikan...! Niat latihan siapa tau juga dapet jodoh kan jadi dobel keuntungan 0_o
Kusingkirkan rasa... suka yo tidak... Benci juga enggak ada dalam kamus hatiku apalagi baru saja bertemu.. Kubuat netral alias biasa saja dan memang seperti itu rasaku.. Coba kuhela khayalan orang yang menarik perhatianku datang mengetuk pintu >_<
Kenyataan harus kuhadapi bukan angan-angan pembunuh mimpi! Itulah yang ingin kulakukan. Mungkin aku bisa menemukan keistimewaan lain yang menutup kekurangan itu. Ekpektasi itu masih tinggi kulangitkan.
Lama aku dalam renungan bagaimana menyampaikan rasa 'ampang' dari pertemuan pertama sampai membaca berulang-ulang biodata yang timpang.. Mungkin aku masih salah  mengeja...
Seperti yang dinasehatkan pengampu kajian pranikah di 92,1 MHfm juga istri sepupu yang mengingatkan sebenarnya  pertemuan dengan calon berpeluang menimbulkan kecenderungan yang belum diperbolehkan. Rasa cinta yang belum pada tempatnya.
Secara administratif maka biodata ta'aruf si ikhwan belum lolos kualifikasi. Bisa diperkirakan bentuk blangko yang diisi, dengan kolom-kolom dalam ukuran tertentu. Tidak seperti lembaran dimana kita sendiri yang mengatur. Poin-poin penting yang melengkapi ada yang dikosongkan. Belum lagi tidak adanya kesesuaian visi-misi dengan jangka panjang-pendek yang ingin dicapai. Pun kriteria calon yang sengaja kutambahkan setelah membaca biodata si ikhwan juga tidak memenuhi. Meski berusaha fleksibel untuk itu namun merupakan masalah prinsipil bagiku.
Pertimbangan keluarga besar kuperlukan terutama Om-Omku. Saat kuajukan biodata ikhwan, awalnya setuju. Hingga tiba kusampaikan pertanyaan spontan yang dilontarkan si ikhwan disertai organisasi yang diikutinya sekarang, ditambah keterangan dari perantara membuat tanggapan Omku berbalik 180 derajat. Dari setuju menjadi tidak setuju.  Aku sedikit lega  tapi ada ganjalan jikalau pemahaman agamanya sebenarnya sama denganku. Hanya saja aku berada disini berupaya menjadi sosok yang menjembatani bukan menjadi benteng atau yang lebih parah jurang pemisah. Tidak ada yang bisa meyakinkan hatiku selain kompetensi yang seharusnya harus sudah dimiliki oleh si ikhwan.
Pengetahuan bahwa lelaki itu gengsinya tinggi membuatku terpekur lagi bagaimana menjelaskan kritikan tanpa perlu menyakiti..
Sudah kupikirkan menyampaikan kritik yang baik pun jadi menyalahkan diri sendiri. Kenapa kata-katanya lebih pedas dibanding kata yang lebih lugas?
Bagaimanapun baiknya penyampaian kalau kritikan pastilah menyakitkan dan aku sering mengalaminya.
Kebijaksanan yang diharapkan hadir saat menghadapinya! Betul ungkapan yang disampaikan sahabat penyiar senior yang mungkin usai membaca sms berisi kritikan.
Disiplin itu kudapat sedari kecil dengan mendengar siaran yang penyiaran programnya bisa dijadikan acuan waktu. Selalu on time dan sama saban hari. Kalaupun ada perubahan pasti ada pemberitauan terlebih dulu. Begitu kesukaanku berganti dari radio konvensional ke radio Islami, acuan waktu yang membentuk pola keseharian sering terkacaukan.
Gegara  nonton diary AFI, aku menjuluki diriku sendiri sebagai 'Miss Last Minutes! Baru mau fokus ke agenda tersebut kalau waktunya sudah mepet. Nah! Jika acuan waktu yang kugunakan adalah radio Islami yang sedang enggak ontime, otomatis persiapan yang kulakukan ikutan molor juga >_<
Sebagai pendengar setia kumenyampaikan keluhan. Tapi tetep saja jadi kritikan pedas. Terus?
Enggan menyampaikan kritikan, begitu?
Duh! Tambah level penyesalanku >_<
Contohnya belum lama ini ketika takziyah tetangga sekampung beda RT. Aku hanya bengong saja mendapati seorang ibu di depanku dengan gamis panjang, khimar yang lebar pula, dan masih tertutup kaos kaki... MasyaALLAH! Begitu saja membuang bungkus permen yang dibiarkan terjatuh di kakinya??? Aku terdiam karena tidak tau harus bicara apa di hadapan banyak orang dalam suasana berkabung pula.
Aku menyerah kalah dengan apa yang telah dilakukan Mbah Sariban. Eagle Doc Series memberi judul 'Super Iban' untuk relawan kebersihan di kota Bandung tersebut.
Lebih baik menekuri para Pahlawan Sejati itu daripada ikutan menyorot gempitanya siswi memaki Polwan yang berani mencegatnya saat konvoi usai UN dan mengaku sebagai anak Inspektur Jendral Irman Depari ketika hendak ditilang...
Mendingan juga kita kembali ke bahasan awal bahwa ada perlunya aku : --> Membuat skenario sedemikian rupa dengan memahami istilah yang kuambil dalam bacaan kalawarti  'Panjebar Semangat' yang masih setia di pojok sana  dalam keadaan terbengkalai >_<
Yap! istilah 'Pasang Giri Patembaya' atau istilah lainnya 'bebana'
Langkah awal, tentu saja mengenalkan dunia tulis menulis lewat digital. Jika si ikhwan menyerahkan biodata berupa blangko yang terisi dengan tulisan tangan-> temennya maka aku memperlihatkan proposal berupa file di google drive lewat perantara kedua.  Lalu perantara kedua mengirim file pada perantara pertama untuk kemudian disampaikan pada si ikhwan.
Mungkin ikhwan tidak bisa menulis tangan tapi bisa menulis dengan bantuan keypad. Prasangka baik yang kubutuhkan, Kawan!
Pasang giri itu dengan meminta koreksi dari si ikhwan. Mengejek?
Sebenarnya bukan tapi menggugah kesadaran akan kekurangan yang musti diperbaikinya. Seminggu lebih tidak ada kabar maka aku beranikan tanggapan ikhwan pada perantara.
Entah lega atau kasihan, lewat perantara pertama mengabarkan bahwa si ikhwan tidak memiliki masalah apapun dengan proposal nikahku?
Seandainya dirimu ada di posisiku maka apa tindakanmu selanjutnya?
Begitupun aku masih memberi toleransi dengan merinci poin-poin yang tidak berkesesuaian. Bisa jadi ketidaksesuaian itu menimbulkan konflik nantinya.
Pertemuan berikutnya malah si ikhwan datang sendiri mengingat perantara pertama berhalangan menemaninya.
Belum puas jawaban dengan lisan aku menyerahkan catatan-catatan tulisan tanganku yang berisi biodata yang perlu dilengkapinya dan beberapa poin ketidaksesuaian antara biodatanya dengan proposalku.. Kuminta dalam bentuk file juga...

Mungkin permintaanku sulit terpenuhi atau barangkali pesanku tidak sampai. Perantara pertama meminta keputusanku jika setuju untuk meneruskan ke proses selanjutnya?
Aku tidak tahan lagi untuk bilang sedari awal sudah tidak ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan tapi aku lebih berharap... Semoga menjadi sesama Saudara MUSLIM yang terbaik...

Ngawistarani si ikhwan telah terkena lintah...
Berkali-kali kusampaikan setiap kali Bundaku menyalahkan keputusanku, mendesak kesediaanku..
'Sawah yang mana, kali yang mana' enggak dapat lintah! Enak yang sudah kena lintah! Lha aku?
Mending dhawuh milih kursi ituh [ =yang kumaksud kursi ruang tamu yang disebut si perajinnya sebagai pandangan pertama]

Jadi?  Bukan karena proposalku yang anti penolakan tapi karena ' darimana datangnya lintah' itu 0_o 

Bukankah Rara Jonggrang meminta syarat dalam rangka menolak lamaran si Bandawasa?
Kalau yang melamar yang lain pasti bukan berwujud seribu candi...  [halah* >_<

Renungan yang  membuatku kembali menyadari kenyataan bahwa aku belum mau menerima kepercayaan mendampingi seseorang.
Sungguh aku mengagumi mereka yang penuh percaya diri menerima tanggung jawab begitu ada yang bersedia memilihnya..

Tausiyah @@Gym di Kajian MQ pagi, bener-bener menusuk :
  • Rela diremehkan orang lain agar kita bisa lebih baik daripada dipuji tapi nyatanya kita tidak ada apa-apanya