Loading...

Selasa, 24 Mei 2016

Di Balik Suatu Ungkapan




Ora nganggep mung ateges wantah
Nanging tansah ngemu surasa ing samudhana

Nglakoni Lampah Saka Punjering Kedaden

Refleksi dari hal yang terangkum mulai dari cerpen yang ku-share di BAW. Saat itu aku juga tengah menghadapi perkataan yang tidak mengenakkan tentang kebiasaanku bawa-bawa buku dan keluar-masuk warnet. Disusul komentar penceramah di kampungku yang menyindir telak dengan keadaan diriku...
Dan kutuliskan ini sebagai upaya mengurai masalah. Berharap, Semoga ALLAH berikan kelapangan hati sehingga mampu menghadapinya dengan petunjuk ALLAH.
Beda dengan diary dimana aku bisa menyebut nama tapi di hadapan publik yang maya namun nyata ini aku jadi lebih berhati-hati demi menyinggung pihak lain.

Dengan mengunggah Cerpen di BAW  seolah aku ingin berteriak nyaring ke semua orang :

Lihatlah! Aku tetap menulis bagaimanapun pendapat kalian! @_@

Perasaan menjejal yang ingin kuurai lewat kata-kata seperti mendesak untuk dilakukan. Syukurlah ada media tempat aku bisa menjalin cerita demi cerita. Mungkin hanya kiasan. Bukan mustahil pula keinginan yang terpendam lama. Semua menumpuk jadi satu jadi bingung menjelaskan sebenarnya. Jeda bagiku malah menjadikan usang. Terbengkalai tanpa arti apapun. Luapan itu sudah semestinya harus segera ditumpahkan. Baru! Aku bisa memperbaiki akibatnya, kemudian...
Hei?!
Mungkin aku malu mengakui kalau terlalu buru-buru merumuskan sesuatu?
Rupanya aku sudah siap akan menuai ruahan kritikan sesama penulis. Hanya ada yang terlewat saat kuperhatikan lagi tanggal dimana aku berkesempatan online waktu itu tanggal 19 April. Ternyata deadline giveaway di blog bunda +riawani elyta  berakhir tanggal 18 April 2016... ketinggalan, deh >_<

Ini segala hal 'tentang kita'
dalam mengeja langkah.
Dulu, kubebaskan jiwa petualang dalam kembara imajinasi
Dan, seiring perjalanan waktu di jaman kepo sekarang ini
jadi perlu mengetahui apa yang sedang dipikirkan penulis lewat tulisannya 0_o

Mengaitkannya dengan deklarasi diri tertanggal  : Rajab 1437 H atau Jum'at 29 April 2016 tercatat dalam buku agendaku bahwa menjelaskan yang kupahami lebih efektif mendorongku untuk kembali menulis lagi. Dibandingkan dengan mencoba memberi pengertian pada orang lain.
Mungkin karena tidak ada tuntutan bagiku agar orang lain bisa memahami.
Tidak mungkin pula aku mampu menjelaskan apalagi yang tidak mau mengerti.
Bukankah pengetahuan itu mutlak karunia ALLAH?
Dengan begitu aku diingatkan tentang tugas Rasulullah SAW adalah menyampaikan!
Ingat!
Hanya menyampaikan!
Berat, memang!
Rasulullah pun tidak dituntut agar risalah yang disampaikannya berbuah keimanan..
Hendaknya sebagai umat Rasulullah SAW juga mengingat suatu pemahaman itu bukan karena kita yang telah menyampaikan...
Dan, kesadaran itu yang membuat aku tidak risau lagi terhadap hasil yang belum terlihat oleh mata  bahkan sekedar dirasakan sekalipun.  Belum!?
Aku hanya menyadari pemahamanku  yang makin bertambah dan makin merasakan bodoh jika harus menjelaskan apa yang telah kuketahui.. Mendadak! Hilang semua pengetahuanku...
Tercenung dengan doa yang baru kuketahui maknanya. Doa pengharapan para hafidz yakni memohon pada ALLAH dengan karunia pengetahuan Semoga ALLAH Berkenan menyimpannya dan menurunkan pada hamba-Nya saat dibutuhkan...
Jadi!?
Aku menuntut diriku untuk memahami terlebih dulu baru memberitau apa yang kutau!
Tulisan 'T A U' yang kupilih untuk sinonim dari mengerti bukan tulisan 'T A H U' yang punya makna suatu bahan pangan dari bahan kedelai jika dilafalkan sesuai dengan ejaan tulisannya.

Apabila aku bertanya mungkin aku memang belum tau atau ingin menegaskan kembali apa yang telah kupahami itu bisa juga salah atau benar.
Dalam keadaan demikian aku berharap mendapatkan pemahaman baru.

Itulah pelajaran dari ayat pertama yang diturunkan pada Rasulullah. Baru ayat pertama :
'I Q R O'
Bahkan aku melakukan ritual membawa buku kemanapun kaki melangkah keluar rumah. Kalaupun tidak membawa buku ataupun tidak membukanya, aku mewajibkan atas diriku untuk selalu membaca keadaan.
Bukankah ayat ALLAH bukan cuma berupa kauliyah[ tersurat] namun meliputi pula ayat kauniyah [tersirat]

image from google
Ritual pertama yang terasakan begitu berat begitu ada yang tak paham terhadap apa yang sedang kulakukan. Lantas apa yang perlu kujelaskan?
Taukah mereka nilai Islam malah diamalkan oleh non muslim sehingga mampu mengangkat peradaban mereka sedangkan kita yang mengaku Islam perlahan menghilangkan tonggak pengukir sejarah itu sendiri?
Para kaum pembangkang pantas bertepuk penuh kemenangan dengan kenyataan tersebut T_T

Mengambil makna di suatu kajian di MQ Pagi :
Sementara mereka sibuk memperbaiki akhlak dan di saat yang sama kita terlena membaguskan topeng keduniawian...
Apa cukup hanya mengaku sebagai Muslim?

Apa aku harus bertanya dulu dia Islam atau bukan?
Rasulnya siapa?
Ayat apa yang disampaikan pertama kali pada Rasulullah?
Kenapa bukan syahadat yang menjadi syarat insan dinyatakan muslim?
Kenapa ayat pertama itu 'B A C A"?
Aku juga sedang mencari jawabnya!
Haruskah aku berlaku seperti lagunya bung Ebiet G Ade dengan bertanya pada rumput yang bergoyang 0_o
Akhirnya aku hanya mampu berdialog dalam anganku sendiri >_< 
Karena mereka yang protes disampaikan lewat Bundaku.. pengertian itu berhenti pula pada bundaku namun aku enggak tau beliau paham atau tidak.. hanya harapan yang kulangitkan, Semoga bundaku diberi hikmah kepahaman @_@

 Sungguh tak memungkiri keindahan bahasa Al Qur'an yang tiada banding. Kalimah ALLAH yang coba kutirukan dan kuakui tak bisa, hanya mengikuti apa yang telah tertulisi saja. Berharap mendapat keberkahannya.

Semakin memahami ayat AL Qur'an maka semakin menyadari kebodohan hamba..

Ketika penjelasan tidak bisa di-jeda maka kata-kata terasa habis untuk mengurainya.

Memang kita tidak boleh memilih ayat yang kita sukai saja melainkan juga ayat yang tidak kita sukai. Dengan demikian, Semoga kita menyadari bahwa uraian jawaban terdapat diantaranya.
Semoga ALLAH  Mudahkan hamba menempuhinya.
 
Upaya yang coba kutempuhi  saat menghadapi sindiran yang sebenarnya menusuk relung hati. Padahal harapanku didoakan tapi malah ditikam dengan kata-kata. Artikel di buletin sebagai hadiah bagi donatur yayasan kepedulian amal untuk umat mampu menentramkan kala mendengar kalimat yang mendahulukan lisan daripada hati. Bahwa guru istimewa itu mampu mencari potensi terpendam anak didiknya. Artikel sampingnya juga tentang moral  feeling yang mulai menghilang. Persis seperti yang kuhadapi ketika kata-kata yang terucap tidak menggunakan hati.

Lagi-lagi aku haru bersyukur pada ILLAHI dan tak boleh berhenti untuk syukur @_@
Dari Ayah aku belajar nilai-nilai Islam meski beliau akhirnya mengaku sebagai Islam Kejawen kala didesak dengan tanya kenapa tidak melaksanakan Sholat.
Bantahan Daddy yang mementahkan pengetahuanku tentang Islam membuatku terus belajar dan belajar lagi.
Ayah yang mengenalkanku tentang proses membaca apapun yang ada di hadapan.
Mengajariku hidup sederhana sampai diriku menyadari apa yang kuinginkan tidak selalu yang kuperlukan.
Ternyata ALLAH hanya Memberikan yang terbaik dan itulah yang kita butuhkan meski terasa amat buruk dalam pengertian manusia.
Bapakku yang tak lelah mengingatkan untuk makan bersama sampai rela tidak makan seharian hanya karena menunggu kami menyelesaikan kerjaan rumah. Ada rasa bersalah jika terkenang kembali T_T selalu wanti-wanti jangan makan sambil jalan apalagi sampai tetangga tau namun tidak menyembunyikan makanan yang telah terhidang jika memang ada tamu yang datang sekalian untuk menjamunya. Terbukti meja makan keluarga kami menyatu dengan ruang tamu. Aku harus menghabiskan kudapan yang kupegang meski ada urusan yang harus segera diselesaikan.
Dan ayah tak segan mengingatkan bila merasakan keganjilan. Terkesan cerewet tapi aku sendiri rindu dengan teguran-teguran Kanjeng Ramaku dengan sesekali membandel *_*
Semoga ajaran-ajaran baik ortuku bisa menjadi amal yang diterima..
Semoga aku bisa berupaya selalu ngestok'aken..
Semoga ALLAH Kabulkan azzam-ku bisa menjadi jalan keselamatan bagi Ayah-Ibu..

***