Loading...

Sabtu, 01 Oktober 2016

Mengenang Pujangga Yasadipura

Sebenarnya tidak meniatkan pergi kesini.  Tujuan semula ke Objek Wisata Umbul Pengging. Pesona wisata yang ingin aku bagi dari kabupaten dimana aku tinggal. 
Lumayan berliku menuju kesini. Soalnya mengambil rute perjalanan pulang dari ber-sillaturakhim ke rumahnya Budhe, mbakyu-nya Ibu. Perjalanan diawali dari Papringan, Kemalang melewati kawasan Minapolitan menuju Banyudono, dengan memasuki desa Sudimoro.
Sempat melintasi Umbul Ponggok (duh>_< sayang nggk motret).

Kalau berangkat dari rumah, jelas mudah lewat Jalan Raya Solo-Semarang. Dari arah Boyolali. Naik bus jurusan Solo-Semarang bisa.  Turun kemudian belok ke kanan bila sudah sampai di Lampu BangJo (lalintas) Ngaru-Aru. Tersedia ojek atau dokar disana. Angkutan umum juga ada tapi kalau belum terlihat mangkal bakalan nunggu lama. Kalaupun jalan lumayan deket, sih.. Kira-kira sekilo lah. 0_o. Di perempatan yang kulihat mirip pertigaan, belok kanan lagi. Objek Wisata Umbul Pengging sekitar 50 meter di sebelah kiri. Enggak bakalan nyasar.
Sedari perjalanan, kubilang wisata air Ponggok, Jalatunda, Cokro, deel itu satu kawasan. Satu jalur..
Ketemu yang dicari.. Eh!  Berpapasan dengan barisan mobil yang akan meninggalkan Umbul Pengging. Masku yang nyopir, mau tak mau mengambil sisi kanan untuk menepi lalu turun dan memastikan loket sudah tutup. Jiah! Sejak kejadian nyasar tadi memang sudah ada pemberitahuan di google map-ku.  Jam empat sore sudah tutup sedangkan kami baru tiba di lokasi jam lima sore lebih >_<
Uh, aplikasi tersebut tidak semudah perkiraanku, ternyata ( atau) aku yang belum bisa menggunakannnya o_0
Yo wis, putar balik! Dan...
Daku menangkap tulisan yang terpampang di seberang depan sana, objek wisata pilihan yang lain. Akhirnya mobil box dinas Masku  buat ngirim kecap Sarico, asli produk Purworejo, membawa kami menyebrang lantas masuk kesana.
Daku memberi peringatan bahwa sebelah kiri ada makam juga. Kiai Pengging?
Mobil tetep jalan sampai mentog. Ada tulisan 'Umbul Sungsang'.
Baiklah! Nyari informasi sendiri karena sedari tadi muter-muter, Mas yang turun buat nanya sana-sini o_0
Aku menghampiri mereka yang kemungkinan penjaga loket dekat papan bertuliskan 'Umbul Sungsang'.
Sementara mobil nyari tempat parkir, daku memastikan dimana tempat Makam Rd.Yosodipuro. Dari Bapak Penjaga Loket, aku diberitau bahwa yang kulihat di sebelah kiri tadi adalah pesanggrahan.
Masjid Cipto Mulyo, Pengging
Image YouandWe
Lampu mulai dinyalakan menjelang petang. Lingkungan air terasa dengan adanya kanal- kanal. Sejuk di hati melihat air yang lebih jernih dari yang telah diliwati. Lebih bersih meski masih ada sampah yang tersangkut disana-sini.
Depan sana ada Masjid Cipto Mulyo, Pengging. Bangunan yang menonjol karena berada di ujung. Sulit aku buat lanskap di perempatan (bukannya pertigaan?) jalan yang terhitung ramai tersebut. Tempat yang kumaksud ada di sebelah kiri, Jalan kampung, masuk. Tidak perlu memasuki areal Masjid. Bebarengan dengan murid-murid TPA budal (keluar). Kenapa tidak Maghrib sekalian, kan nanggung?
Pintu Masuk ke Makam Rd. Yosodipuro
Image by YouandWe
Sekitar 100 meter, pintu gapura mulai terlihat.
Tiba di depan regol, langkahku terhenti. Pintu regol terbuka. Tidak ada penjaga meski di depan sana ada tulisan 'Tempat Pendaftaran Tamu'.
Lengang!
Warung-warung di sebrang kanal, warga sekitar, seolah hanya mengawasi saja dari kejauhan. Aku sendiri tidak bermaksud melakukan wawancara laiknya reporter. Cuman pingin motret-motret, doang.
From Insta @youandwe

Membaca tulisan diatas pintu regol membuatku tercenung. Siapa sebenarnya yang dimakamkan disini? Pujangga??? Ada rasa penasaran yang tertahan. Hampir adzan Maghrib, ada deadline yang masih dalam garapan menunggu penyelesaian. Dan aku harus fokus tapi ini kesempatan yang tak boleh dilewatkan.

Lorong menuju ke bangunan induk makam Rd. Ng. Yosodipuro
Image by YouandWe
Ibu dan Mas duduk di tangga regol menungguku. Melangkah masygul menelusuri bagian demi bagian. Sepi?
Justru tidak berharap bertemu dengan Pakuncen bila mengingat waktu.
Melewati pintu regol sambil mengucap salam pada ahli kubur meski dalam hati. Sebelah kanan, kemungkinan rumah Marbout Masjid.
Di sebelah kirinya, ada pintu menuju bangunan induk. Aku masuk. Yakin! Ada penanda di atas pintu. Aku memilih tidak memotret nisan.
Perhatianku kualihkan ke sebelah kiri pintu lorong (bisa dilihat image di atas).
Ada pajangan dinding berisi sanggaran.
Eits!
Bukan untuk nomer butut!
Jateng Gayeng dengan nomor baru penuh prestasi bukan nomer butut ataupun kode buntut, jangan!
Sanggaran dalam pengertianku adalah suatu kesimpulan tentang pemahaman seseorang untuk kemudian disampaikan dengan penafsiran yang diketahuinya.
'Memaknai sesuatu menurut pemahamannya sendiri'
Isi sanggaran itu mengenai pengenalan huruf hijaiyah dalam bahasa Jawa.
Duh! Mengingat waktu, aku memutuskan merekam tulisan itu dengan kamera ponselku. Kurasa sudah masuk gambarnya ke galeri. Namun...
My ALLAH! File-nya kucari-cari tidak ada sama sekali. Padahal dua kali jepretan kurang pas bingkainya. Lalu mengulangnya kembali dua kali. Jadi, empat jepretan tidak ada semua. Foto-foto blur tentang cahaya lampu di jalanan malah berlipat-lipat >_<
Mungkinkah sanggaran itu salah satu warisan dari pujangga almarhum?
Dari Wikipedia maupun blog yang membahas Pujangga Besar tersebut, Raden Ngabei Yasadipura Tus Pajang I atau disebut Yasadipura 1 merupakan keturunan trah Pajang yang menjadi pejabat di masa pemerintahan Pakubuwana II dan Pakubuwana III . 
Menelisik kembali bagian sejarah Kasultanan Mataram. Kegemaranku ini tak lain berkat penasaranku akibat membaca bundelan Api Di Bukit Menoreh anggitan alm.SH Mintardja milik Ayah.
Ada yang janggal pada siapa Raden Ngabei Yasadipura I mengabdi. Menilik tahun riwayat hidup (1729-1802) dan riwayat menjadi abdi saat Geger Pecinan yang membuat Kartasura bedah lalu keraton berpindah ke Desa Sala menjadi Surakarta (Perang Suksesi Ketiga), maka Paku Buana II yang menjadi raja. Bukan Paku Buana III.
Memang, sejarah mencatat dan aku juga mengambil referensi dari Babad Tanah Jawi versi anyar yang kupunya bahwa perebutan tahta Mataram Islam (perang suksesi Jawa) dimulai di pemerintahan Amangkurat III dengan adanya perselisihan sang paman, Pangeran Puger yang akhirnya mampu merebut tahta dan bergelar Paku Buana I. Perebutan kekuasaan ini dipicu perjanjian antara Ki Gede Pemanahan dengan Ki Juru Martani ketika mendapat Alas Mentaok, cikal bakal Kasultanan Mataram. Ki Juru berhak atas tahta Mataram setelah sekian keturunan dan Pangeran Puger lah yang dimaksud dalam perjanjian tersebut. Saat itu, Mataram telah porak poranda dan dipindahkan ke Kartasura. Runtuhnya pusat kerajaan di Plered disimpulkan dengan berakhirnya Kesultanan Mataram.
VOC Timur memperkeruh suasana dengan siasat politik adu domba dan pengalihan kepemilikan. Seolah VOC yang menentukan kemenangan sehingga berhak memilih raja untuk diberi kuasa. Kedudukan Paku Buana I mampu dimanfaatkan oleh VOC. Itulah awal pembatasan teritorial kerajaan di Jawa.
Paku Buana digantikan Amangkurat IV. Punya 21 istri dan dijuluki Leluhur Raja-Raja Surakarta dan Yogyakarta. Perang Suksesi Jawa Kedua terjadi dalam masa pemerintahannya.  Perang yang dilancarkan oleh saudara sendiri yang lahir dari para selir. Amangkurat IV terbunuh oleh racun tanpa diketahui dalangnya. Kedudukan raja digantikan putranya yang masih berumur kurleb 15 tahun, Paku Buana II.
Dampak Perang Suksesi Jawa ketiga membuat Paku Buana II menyerahkan kedaulatan sepenuhnya pada VOC. Di masa pemerintahan penerusnya Perjanjian Giyanti diadakan.
Naskah perjanjian yang ditulis rapi dan teliti oleh Pujangga Yosodipuro.
Beliau pula yang menurut pendapatku, naskah yang terangkum dalam Babad Tanah Jawi mulai disusun. Yang diakhiri dengan Perjanjian Giyanti di masa pemerintahan Paku Buana III.
Sesuai tarikh 1788 yang ditulis Carik Braja atas perintah Susuhunan Paku Buana III.
Naskah dalam bentuk larik tembang Macapat yang dijadikan rujukan De Graaf juga Meinsma dalam Babad Tanah Jawi.
Tembang Macapat itu sampai sekarang dijadikan suluk oleh para dalang dalam pagelaran wayang.

Betapa pentingnya seorang pujangga bagi seorang raja. Seorang kepercayaan yang membantu menyampaikan pemikiran Sang Raja.  Sebutan Raden Ngabei adalah gelar pangkat paling bawah. Meskipun derajatnya paling rendah diantara yang lain, dipercaya sebagai abdi dalem merupakan kedudukan penting dan paling tinggi dalam kediaman Raja.
Atas jasanya pada kerajaan, bangsal kediaman Raden Ngabei, yang dulunya berada di Kedung Kol ditandai dengan asma  panjenenganipun 'Yasadipuran'.
Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, ungkapan yang mengejawantah bagi Raden Ngabei Yasadipura.
Kedudukannya sebagai pujangga diturunkan kepada Yasadipura II (Tumenggung Sastranagoro) atau Mas Pajangwasistho. Yang menyebut dirinya Rangga Warsita I.
Meski kedudukannya tidak diakui, Mas 
Pajangswara, putra Raden Ngabei Yasadipura II, melanjutkan jadi juru tulis istana hingga di bui.
Dan, keturunan Mas Pajangswara yang dikenal namanya dengan karya fenomenal di jamannya bahkan sampai sekarang. Siapa yang tidak ' ngeh' dengan SabdaPalon, Ramalan Jayabaya, dialah Ranggawarsita III. Atau cukup dipanggil Ranggawarsita saja.

Menyandang tanggung jawab sebagai penulis keraton kadang berbuah kepahitan. Memangnya, apa enaknya menulis suatu perjanjian yang merugikan bangsanya sendiri?
Mungkinkah tega merelakan tanah tumpah darah dan nyawa saudara sendiri?
Lagian bukan tugas insan untuk menghakimi sementara politik seolah telah memberi penyelesaian dengan caranya.
Terasa gentar membayangkan bila berada dalam posisi sedemikian.
Namun terbukti Karya besar itu takkan pudar walaupun memerlukan pengorbanan hal besar pula.
Lantas..
Apa yang dipikirkan oleh pelaku vandalisme?
Sungguh, image diatas aku potong agar tidak mengabadikan sampah Visual itu. 
Kerak, lumut bisa ditolerir tapi corat-coret tembok tidak punya nilai seni satu poin pun kecuali memperburuk tembok.
***
Sampai ujung Makam Rd. Yosofipuro
Image by YouandWe
   Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @visitjawatengah (www.twitter.com/visitjawatengah;