Kamis, 24 November 2011

Disabilitas dan Pandangan Masyarakat dalam diary-ku

tertarik juga dengan info lomba kartunet.com

Karena Kamu Istimewa


Dengar satu tema yang diangkat dari sebuah radio ( 'Dynamic Muslim Station' nggak ada yang lain yg menarik bagiku ^_^ ).. Jadi rada penasaran, Apa yang dibahas, yah? Tema yang nggak biasanya diangkat di Girls Line. Tentang curhatan seorang akhwat kuliahan yang punya adik lagi saat usia ortu-nya mulai beranjak senja. Kebahagiaan yang terduga itu, terusik karena adik batitanya itu punya kelainan. ada ketidaknormalan bila diajak berinteraksi. Reaksinya lamban saat disapa, dalam umurnya yang menginjak tiga tahun belum ada tanda-tanda bisa bicara. Kedua orangtuanya mengira bahwa anak bungsunya menjadi tuna rungu dan tuna wicara.


Dia lain episode, tema tentang kegalauan akhwat yang telah mengiyakan untuk berta'aruf  begitu mendengar, memperhatikan, merasai tanggapan orang-orang ketika hadir di walimahan yang bukannya mendoakan kedua mempelai, malah sibuk bergunjing dengan 'kelainan' sang pengantin.

Dalam lingkungan, dimana aku tinggal. istilah 'disabilitas belumlah diketahui secara awam. Kecuali, dia adalah orang yang suka membaca, pemerhati tayangan informasi di media, dan orang yang peduli dengan perubahan.
 Jujur, aku sendiri merasa kikuk berhadapan dengan seorang yang diberi kelebihan oleh ALLAH ini. Ada rasa takut bila sikapku membuatnya tersinggung. Dan, bukan tidak mungkin, seorang itu, malah merasa tidak diinginkan kehadirannya. Sikap canggung ini sebenarnya penyebab terbentangnya jarak...

Suatu kali, aku melihat tayangan di media TV, tentang wanita yang di masa kecilnya mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kedua lengannya diamputasi. Terbayang, betapa keadaan itu mengguncang kejiwaannya. Atas saran psikolog dan ahli terapis, kedua ortunya memberi waktu pada sang anak untuk merenungi keadaan dirinya. Sengaja mengurungnya dalam kamar ketika si anak dalam keadaan depresi.
"Kami menunggu hingga kamu bisa mengendalikan dirimu dan berbuat sesuatu untuk kepentingan dirimu sendiri!"
kira-kira seperti itu, ortunya memberi kesempatan. Tak memakan waktu lama, si kecil sudah memakai baju, padahal tadi belum memakai saat ditinggalkan sendiri di ruangannya. Seiring, tumbuh kembangnya,  kaki wanita itu mampu menggantikan peran kedua lengannya. Bahkan, mampu menyetir mobil. Ada cerita menggelikan jika kebetulan ada Polisi Lalu Lintas yang bertugas, agar tidak kena tilang, wanita itu memakai sarung tangan untuk menutupi kakinya. Alhasil, memang bentuk kaki yang lentur itu persis dua tangan yang mengemudi... Wanita itupun menikah dan merawat bayinya sendiri, mulai dari mengganti popok, membuatkan susu, sama sekali tidak mengalami kesulitan yang berarti. Kaki yang luar biasa itu, dijelaskan tidak berbeda dengan kaki pada umumnya. Tapi, perannya yang sekaligus menggantikan tugas kedua lengannya.. make it's so AMAZING!

Dunia dalam layar kaca itu, mewarnai  pandanganku pada para difabel.
Sayangnya... kenyataan di lingkunganku masih belum kondusif bagi disabilitas. Aku merasakan sendiri hanya bisa terbengong-bengong ketika ber-silaturrakhim di rumah tetangga yang masih terhitung kerabat. Adik temenku ini laki-laki yang  lumpuh sekujur tubuh. Menginjak usia remaja, perangainya kasar seperti mengamuk, berteriak-teriak saat aku dan Ibu menjenguknya di sebuah bilik dengan suara  khas dari remaja yang mulai berubah. Waduh, ibarat bertemu ular ganas, tidak ada pilihan lain kecuali menghindar. Lha, karena  aku, kan, bukan pawang ular! *Halah, lebay!)

Ternyata, lingkungan itu berpengaruh juga. Kesiapan mental keluarga disabilitas  yang membersamainya merupakan modal awal dalam perkembangan jiwa penyandang selanjutnya.

Namun, aku beruntung bisa berkenalan dengan Adlia, seorang tunanetra yang pandai bernyanyi. Aku senang bisa mendampinginya waktu itu. Aku rada tidak percaya kalau dia pergi dari Jogja sendiri ke Solo untuk mengikuti audisi rekaman salah satu label ternama. Kebersamaan yang singkat dengannya memberiku kesan mendalam tentang suatu kemandirian seorang disabilitas.

Speechless, ketika bu' Nindi , memperkenalkanku pada anak didiknya yang seperti Adlia. Mungkin, aku telah terpukau dengan sekilas lengkingan suaranya, tadi yang didapuk jadi penyanyi oleh duo sahabat 'spektakuler' dalam Lomba Cipta Senandung Penyejuk Hati. Meski hanya masuk nominasi lima besar,  Rahma Frema Aulia , yang punya grup band 'Pijar' sekarang sudah punya single nasyid bersama Alief dengan judul 'Ibu' judul yang pernah dipopulerkan Naufal. Dijamin merinding mendengar lantunan senandungnya, bisa di-request di radio yang khusus memutar nasyid.

  • Atas karunia ALLAH pula aku menemukan situs Kartunet.com dan aku menemukan lomba antar blog
Kontes Blogging Kartunet 2011

Semoga kehadiran situs ini bisa menjadi penghubung dinamis antara masyarakat awam, termasuk aku  dengan disabilitas. Namun, tidak semua orang mampu mempergunakan fasilitas internet. Bahkan ketertarikan terhadap dunia ini, hitungannnya hanya sekian persen saja. Semoga yang sedikit ini bisa berperan seperti ragi, yang mempengaruhi, tentu saja dalam hal kebaikan menjadikan masyarakat yang ramah  pada disabilitas.
Luar biasa! Semangat untuk mensejajarkan para disabilitas dengan awam, kerena hakekatnya kita memang sama. Aku jadi teringat Hirotada Ototake, seorang penyandang tetra-amelia, tak memiliki lengan dan kaki, yang sukses dengan tulisannya 'No One's Perfect'
Yang punya keinginan dengan "Lingkungan Bebas Rintangan"
Sebuah lingkungan baik pasar, terminal, halte, bandara, rumah kesehatan, sekolah, dan semua fasilitas umum yang memungkinkan para penyandang disabilitas mampu menjangkau semua ruangan tanpa hambatan.
  • Yakin, bahwa para difabel punya kemandirian, hanya bisakah mereka mendapatkan kesempatan? 
Jadi inget tentang catatan Nindi Nurdita Hapsari, guru Rahma, dan sekarang merangkap jadi manajernya, tentang tata cara mendampingi tuna netra. 
  • Tersirat bahwa para difabel butuh kepercayaan melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri.
 Tayangan yang tak mudah terlupakan juga, tentang juara ketiga dari ajang adu bakat remaja putri 'Mamamia' session pertama, Fiersha. Harapan dari Mama Ache untuk Fiersha...
Yakin, suatu saat nanti akan membuat Mama bangga, doa Mama jadilah cahaya yang selalu menerangi dalam setiap langkahmu...
  • Sungguh, meski hanya sebuah ungkapan, tulus, memberi harapan dan semangat menjalani hidup.
Siapkah kita menjadi masyarakat inklusif?
bersama  kartunet.com
*mengambil slogan @@Gym) Yuk, kita mulai dari diri sendiri, menjadi seseorang yang ramah pada disabilitas; dari hal yang paling kecil, meski hanya sebagai pendamping yang baik; mulai saat ini juga, tanpa menunda-nunda waktu lagi menjadi bagian masyarakat inklusif.

Disabilitas, bukan kekurangan

Ciptaan ALLAH memang sempurna (Qs. At Tiin) yang tidak sempurna adalah bagaimana kita menyikapinya.
Aku hanya bisa mengatakan bahwa "Kamu Istimewa!" dan mereka yang setia menjadi bagian darinya adalah orang-orang yang istimewa...

kartunet.com  salut untuk kalian semua ^_^






2 komentar:

  1. sengaja, biar pada nggk 'keberatan' bawanya

    yah, sampe habis waktu, nggk ada yg mbantuin njawab T_T
    Keberatan, nih, pertanyaannya, harusnya aq yg dikasihani( halah ganti ngeles, Maaf hehe..)

    Pernah, sih. Orang biasanya mnganggap kekurangan itu hina dan sia2. Padahal, mana ada manusia yg sempurna? kecuali Rasulullah dg akhlaknya. jwbn yg trakhir, aq cuma bisa mengajak teman2 agar peduli dan gabung di kartunet.com

    BalasHapus
  2. o iy, kelupaan..

    semua insan punya kekurangan, tapi yakin.. pada kekurangan pasti ada kelebihan...

    BalasHapus

Komentar anda adalah perhatian untuk blog ini
Semoga Bermanfaat...
Terima kasih atas kunjungannnya...