Loading...

Jumat, 29 November 2013

Catatan Tentang Lukaku [2]



Terusan dari Catatan tentang Lukaku [1]

Gara-gara luka yang dijahit aku jadi marah-marah sama sahabat dumay-ku +Ania Maharani  .. karena tidak mendapat jawaban yang memuaskan kapan kira2 jahitanku bisa dibuka, akhirnya jadi pelampiasan, deh  >-<
Semoga dikau sudah memaafkanku, ya...
kapan kita bertemu, Beib???
***

Ada tumbuhan yang kuandalkan sebagai perantara penyembuh lukaku. Yakin الله  yang menyembuhkan, dengan tidak lupa upayaku mengobati dengan tanaman yang ALLAH kurniakan di hamparan buminya. Yang tumbuh di tanah yang ALLAH titipkan pada hamba-NYA ini.

Sebenarnya, urang-aring yang dalam latinnya dinamakan ‘Eclipta Porstata? Bukannya ‘Jessica Alba [ups] seperti nama aktris luar sono? Eclipta Alba namanya di wikipedia


Perban ajaib 
Aku mencari referensi lewat buku yang kupinjam di Perpus daerah, Surakarta tentang tanaman ini. Yang paling jelas gambarnya yang disusun oleh Dokter Hembing. ALLAHU AKBAR… ada deket disitu! Di sepanjang jalan hiperkes Jebres sampai halaman perpus, tanaman itu tececer.. ck.. ck.. rumput liar… bunga di tepi jalan.. oh, kasihan… [jiyaaahh! الاala KoesPloes]  jauh-jauh kubawa bibitnya dari sana ke rumah. Atas kuasa ALLAH jua, di pekarangan urang-aring itu tumbuhnya jadi semak-semak. Bukan sekedar rumput biasa!
image YunW



Selain untuk penyubur rambut dan penghitam rambut, manfaat berikutnya untuk luka baru.
Urang-aring sangat efektif  mengeringkan luka. Cukup meremas daunnya  hingga keluar cairan hitam, mirip tinta, oleh sebab itu dinamakan daun tinta, lalu ditempelkan pada luka. Jika lukanya lebar dan dalam, perlu dilumatkan. Begiu nempel, rasanya memang perih. Seperti dihisap-hisap.justru itu!  Keunggulan lain, bisa menyerap cairan dengan signifikan. Termasuk nanah. Jadi, fungsi urang-aring yang ditempelkan pada luka adalah mencegah dan mengurangi terjadinya infeksi. Subhanallah ya..  aku mengaplikasikannya pada tubuhku sendiri, dulu. Dengan menutup luka baru dengan urang-aring, maka bukan masalah membasuh anggota wudhu langsung menggunakan air. Perban ajaib ini akan mengering sendiri persis koreng dan terlepas begitu saja saat mulut luka mengering.

Beberapa kali juga kucoba pada ayam yang terluka. Banyak yang berhasil, yang gagal karena lukanya terlalu parah dan menyesal sekali tidak bisa menyelamatkan. Aku hanya mencoba tapi ALLAH Yang Maha Berkehendak.
Sayang, urang-aring memang cepat memulihkan luka tapi kulitku yang sensitif jadi alergi. Lukanya sembuh tapi timbul kemerahan di sekitar bekas luka. Ruam-ruam itu runyap [gatal sekali] minyak kelapa yang mampu meredakannya. Kulit rambutku juga kena ketombe setelah beberapa kali memanfaatkan khasiatnya. Pernah, punya kutu ketika masih kecil karena ketularan temen tapi nggak sampai berketombe. Kemunculannya ternyata akibat memakai orangaring.

Seperti yang dituturkan Pak Hembing bahwa obat untuk orang satu bisa menyembuhkan tapi belum tentu untuk yang lain.

Karenanya, diriku mencari alternatif lain yakni daun sirih. Ternyata, aku cocok dengan daun ini. Khusus untuk obat luar, lho ya… bukan untuk dikonsumsi bagi yang terkena keputihan.
Suka njerang air diberi daun sirih buat mandi  ^_^, biar harum terutama saat haid. Disamping buat mbasuh. 
Untuk nglimbang [membersihkan mata] biasanya kalau matanya merah  [belek'en
dan, bagiku sirih untuk penyembuh luka juga..
Wah, sebaliknya untuk Kanjeng Mami yang lebih cocok dengan urangaring dibanding daun sirih. Mungkin golongan darah kami berbeda dimana aku ngikut golongan darah Kanjeng Rama yaitu: A sedang Ibu: AB.

Daun sirih kalau ditempelin di luka rasanya dingin, nggak perih…

image YunW

Nah, untuk mengobati luka yang bernanah, kutambahi daun ngokilo. silahkan searching by google kalau ingin tau soal tanaman ini, batangnya semburat keunguan, tuh. Unyu2.. *ada yang antusias dengan warna ini *_^ Ngokilo biasa digunakan untuk mengatasi tumor. Yang benjol-benjol karena kutilan atau lukanya bernanah. Darah kotor. Banyak pasien istimewaku ; ayam, burung, kucing.
Keduanya kuparut  beralaskan daun pisang atau daun sirihnya. Banyak suluran[pucuk yang menjalar] jadi daunnya temu ros’e[temu urat]  tulang daunnya mirip air mancur[=lihat pada gambar diatas!]. Beda dengan daun yang tumbuh di batang, tulang daunnya  menyirip.
Semua disediakan berlimpah oleh ALLAH di pekarangan, jadi aku yang musti rajin-rajin memopok dan mengoles kembali ke luka  sehabis wudhu dan mengerjakan sholat.
Tidak lupa mengolesnya dengan minyak kelapa, terutama jika males marut-marut.
Nasehat pakar kesehatan bahwa luka jahitan perlu pelembab ekstra agar tidak terjadi selulit. Alkhamdulillah hari raya lukaku sudah aku bebaskan dari bebatan meski masih diberi minyak kelapa. Ketemu para sahabat pun sudah berani berjabat tangan meski masih was-was dengan genggaman erat.
Sampai sekarang pun, sesekali bekas luka jahitan itu berasa seperti sensasi  kesetrum. Emang gitu ya? terutama yang saat masih dijahit bila diraba berdesir di ulu hati.
Soalnya, luka jahit ibuku di sikunya juga gitu???

Yang paling tidak kusuka dari herbal itu adalah membuat tangan kotor. Tapi, itu bisa diminimalisir lah dibandingkan dengan khasiatnya ^_^

Eh, jangan sepelekan minyak kelapa murni, deh...
herbal yang memang harus tersedia di rumah, dan... karena males ngasih brambang yang dibakar. suka digigitin semut... Ah, berarti diriku memang manis, kan... buktinya mana ada semut kalau nggak ada gula [apa hubungannya?**] O_o

  ***