Loading...

Selasa, 19 November 2013

Catatan Tentang Lukaku[1]



Bukan Sekedar Luka Biasa

Sore, ba’dha Ashar seperti biasa mencuci gelas dan piring. Entah apa yang kuperhatikan, gelas yang sedang kugosok sabun, pecah.. tangan kananku tengah masuk di dalam gelas untuk menggosok bagian dasarnya. Gelas panjang berwarna coklat gula jawa itu mengeluarkan suara seperti ledakan. Bikin Ibuku yang tengah meracik bumbu terkaget-kaget lalu beliau keluar , nggak tau mau ambil apa.
Astaghfirullah… Innalillahi…”
Rasa nyeri menggigit di sisi terluar kelingkingku. Aku bekap, mengangkatnya ke arah mulut, sesekali meniupnya sambil menuju pintu, memeriksa apakah lukaku perlu serius ditangani.
Darah mengucur meski berusaha mengurutnya ke arah nadi. Hal yang harus kulakukan ternyata alpha saat panik [>_<] ujian kali ini nilaiku masih merah >o<


  • ·         Untuk memampatkan darah maka luka harus lebih tinggi dari urat nadi. Lukaku dijari tangan! Nadi di pergelangan tangan! Harusnya aku bisa membekapnya ke...

·         dada seperti yang pernah kulakukan pada awal sebelum darah itu mengucur. [eh] yang kulakukan malah mengangkat sikut. Sewaktu diboncengin pake sepeda motor oleh tetanggaku ke Puskesmas, aku juga turunkan pergelangan tanganku >.<

  • ·         Mengikat agak kencang bagian bawah luka[eh] Cuma membebat biasa agar darah tidak berceceran kemana-mana >o< malah Ibuku memarutkan brambang dan gula lalu dipopokkkan pada luka tapi hanyut oleh arus darahku, tuh


Tanpa suara, kami langsung ke UGD karena sudah lewat jam kerja. Tanpa suara[halah] suaraku mungkin kurang terdengar oleh dokter jaga yang sedang duduk-duduk santai di depan meja. Hingga aku harus melongok ke dalam dan mulutku bungkam untuk meminta sekedar bantuan. Mulutku terlepas dari kuncinya begitu dokternya mengajukan pertanyaan dan menunjukkan kemana aku harus diperiksa. Syukurlah, disamping pak dokter yang ternyata tetangga dekat, beda dukuh, ada mbak dokter[soalnya masih kiyut2] yang langsung menyuruhku berbaring. Pergelangan tanganku diletakkan di atas tadah yang terbuat dari stainlessteel. Padahal aku pingin liat bagaimana mereka menangani lukaku. Sambil membersihkan dengan cairan alcohol, Dokter sempat bertanya, lukaku dikasih obat apa karena mengetahui bekas kain yang dipakai untuk membebat. Hanya brambang dan gula, itu jawabanku apa adanya.

“Apa nggak tambah perih?”

Biarin, deh mereka ketawa. Bikin orang senang itu dapat pahala >o< [yee…] ikhlas nggak, nih?
Siapa bilang dokter nggak kenal kabar ter-up date?

Relakan para dokter itu bikin kompor-misasi info:

“Berita heboh kali ini adalah seorang gadis berdarah-darah terkena gelas pecah!” cukup dramatis, kan >o<

Yah… setidaknya  mangkel di hatiku bikin kebas ketika tusukan sebanyak tiga jahitan dilakukan pada lukaku. Bentuk jahitan yang kukenal dengan jenis tusuk silang, waktu pelajaran Tata Busana di SMP. Bentuknya memang silang, tapi mirip jahitan pada kelim.

Pak dokter perlu menunggu beberapa waktu memampatkan darah meski luka telah dijahit rapi dengan menekan bagian tapak pangkal jari kelingkingku. Jadi, tanganku dalam keadaan telungkup. Sebentar saja ditengadahkan sesaat setelah dijahit untuk membersihkan darah namun masih mengalir juga. Aku masih bisa merasakan hangatnya darahku menetes-netes.  Dokter melepaskannya ketika jariku sudah berasa kesemutan. Gentian, Bu Dokter membubuhkan obat luka lalu membalutnya dengan perban.

Begitu bangun, kepalaku terasa ringan. Syukurlah, aku bisa mengatasi gejala ingin terbang ke awang-awang. Mungkin karena banyak darah yang keluar. Huh, setidaknya tidak membuat curiga dokternya lalu menyuruhku berbaring lagi untuk diukur tekanan darahku. Owh! Justru hal itu yang tidak aku inginkan! Aku ingin segera pulang! Ibu pasti tambah panik kalau aku terlalu lama disini… yang kuingat, obat yang kubawa untuk diminum di rumah antara lain:
-           
 -Amoxcyclin

-         - Dextrometrophan[? Bener namanya?] pada pokoknya sama dengan fungsi amoxcyclin untuk penghilang nyeri dan antibiotik.
-          Eh? Perasaan, nggak dikasih suplemen, deh? Apa mungkin yang tablet kecil-kecil berwarna kuning tanpa nama adalah suplemen? Kenapa rasanya pait? Tablet atau kapsul suplemen biasanya rasanya manis, beraroma, atau semriwing.
- ku tau sekarang dengan inisial IBF [Ibuprofen] 100/200mg sama fungsinya sebagai penghilang nyeri.
Mengetahui fungsi dari kedua obat yang terdeteksi dari namanya, aku hanya tahan meminumnya dua hari. Nggak full, Cuma dua kali karena hari kedua sudah puasa. Lagian efek samping yang ditimbulkan tidaksebanding dengan rasa nyeri yang tidak hilang. Hari kelima kontrol, bilang terus terang kalau obatnya masih. Minum atau nggak minum juga sama rasa sakitnya.. sama-sama nyeri.. minum obat malah bikin ngantuk. Padahal tanpa obat pun, tidurku sudah pulas, kok…

Mbaknya[harusnya aku manggil Bulik kalau mengingat pada hubungan kerabat] yang mengantarku sampai keluar ruangan karena nggak tahan melihat banyaknya darah. Ibu di ranjang sebelah yang sedang menjalani perawatan[keliatannya terkena serangan tensi naik, diinfus tapi tidak di kamar inap] nggak bisa liat, sih tertutup badan dokter. Sedang bapak tua yang mendampingi, mungkin suaminya juga nggak berani masuk ruangan sampai aku keluar menuju motor pinjeman kami di parkir. Pengantarku menunjukkan ceceran darahku  di badan motor yang segera kubersihkan dengan saputangan merah milik Kanjeng Mami yang dibebatkan  ke lukaku. Saputangan itu yang kubawa pulang, tali-temali dari gombal ,ya ndak lah.. biarkan saja dibuang ke tempat sampah…

Benar saja, tiba di rumah Ibuku sudah menyuruh seseorang untuk menyusulku. Memastikan keadaanku yang punya kemungkinan dipondokkan. Aku menirukan dokter yang tadi menanganiku ketika bergurau tadi. Lha wong, cuman luka biasa, kok, perlu mondok? Ada-ada saja…
Aku jadi bingung mau ngapain, mengingat sudah sore hampir Maghrib. Padahal kerjaan cucianku belum selesai tapi luka ditanganku  tidak boleh terkena air. Nambahin kerjaan Kanjeng Mami, dong T_T [hiks]

Subhanallah, rasa cenut-cenut sepulang dari Puskesmas terus duduk diam nggak ada kerjaan, kian menjadi. Pingin sekali membuka perbannya sebab takut, benangnya nyangkut di perban. Alkhamdulillah, jariku masih terasa dan bisa digerakkan. Melongok sedikit, bawah jahitan terlihat kebiruan, langsung saja aku olesi dengan minyak kelapa perlahan dan di atas jahitan. Di jari, atas jahitan terasa berdesir ke ulu hati bila diraba, kuusap pula dengan minyak kelapa. Ternyata, keesokan harinya, perban yang dibentuk selongsong bisa dilepas. Huh! Jadi aku bisa mengganti dengan perban baru. Jelas sekali bentuk lukaku yang dijahit dengan benang, kayak benang yang dipakai untuk njahit sepatu? Bagian yang sempat bengkak semalam dan membiru sudah kempis dan birunya memudar kemerahan. Aku seka dengan air hangat, cuman di sekitar luka. Di permukaan luka aku bersihkan dengan minyak kelapa, lalu dicacapi dengan Bioj*nn* cair murni. Dan memijat ringan di sekitar luka dengan minyak kelapa agar peredaran darahnya lancar sehingga lekas pulih. Siangnya, aku lakukan hal yang sama dan mengganti perbannya.
image YunW


*Luka yang dijahit, luarnya memang terlihat sudah menutup mulut lukanya dan mengering.
*Tepat dua minggu, jahitan dibuka.
Sehari berikutnya, sudah berani nyuci pakaian lagi tapi masih trauma cuci bala pecah >_< ada tetangga yang ngasih tau kalau luka jahitan itu yang mengering kulit luarnya dulu tapi yang di dalam, sebenarnya belum. Dia melihatku sudah mencuci, padahal baru kemarin dibuka jaitannya. Perasaan, sudah kering, lagian ‘udah nggak berasa sakit. Eh, hari berikutnya, sekitar luka bengkak.. waduh! Ada apa lagi, nih? Nyepelein peringatan orang yang punya pengalaman luka jahit, loe! Lukaku memang belum sepenuhnya mengering, jadi bagian dalamnya kemasukan air. Nah, loe!!! [hiks] terpaksa nambah kerjaan Mami begitu kulit yang membengkak itu pecah dan mengeluarkan nanah..
Janjian sama teman ke MH ambil hadiah, lukaku masih mengeluarkan susu kental manis rasa vanilla bercampur sirup framboze. Karenanya, aku balut bekas lukaku dengan perban dan menutupinya menggunakan pita hias. Sengaja memberi kelonggaran pada luka biar kena angin dengan menyelempangkan perban dan pita penutupnya ke sisi tangan bukan hanya jari kelingking. Sempet was2 saat konsul by FB di dialog bersama, karena tanganku disentuh masih nyeri. harus dibongkar lagi? Mungkin masih ada pecahan gelas yang belum dibersihkan? Waduh? syukurlah, tidak...
image YunW


Banyak hikmah yang aku dapatkan dari luka pada akhir Sya’ban, jelang Ramadhan 1434Hijriyah. Ba’dha Maghrib langsung setel TV yang mengikuti penyelenggaraan Rukyat untuk menetapkan tanggal satu Ramadhan 1434 H oleh Departemen Agama yang mengundang seluruh  ormas Islam, duta besar Negara Arab, dan tak lupa Badan Meteorologi Geofisika [BMG]. Ternyata, masih sehari lagi. Berarti, tarawih-nya masih besok petang. Tapi, daku sudah dapat nikmat… Hikmah itu diantaranya:

  • ·         Meski sakit hingga beberapa waktu menyingkir karena beresiko jika dipaksakan untuk berjabatangan. Aku harus mengaduh atau meloloskan tanganku kalau ada yang menggenggam terlalu erat. Yang biasanya enggan jadi sadar, betapa pentingnya kemaafan ketika tangan saling bersalaman. Semoga sakitnya jadi penggugur dosaku.
  • Ini juga sekaligus petunjuk dari ALLAH tentang keraguanku tentang hukum berjabat tangan dengan lelaki yang bukan mahram.. Dua kali petunjuk apa aku masih ragu??? yang pertama ketika aku memohon petunjuk agar diberi kemantapan justru aku bikin pelanggaran, wajahku yang kena letupan untungnya kecil karena  bekas wadah korek gas terbakar di pawon sewaktu masih diharuskan berada di dalam rumah [kanjeng Rama masih sugeng] dan aku pas duduk di depannya nyuruk kayu.
  • ·         Dengan nulis kata-kata inspiratif di Se Gi. Karena kebaikan hati announcer di Segi[ Semangat Pagi @92,1 MHfm Solo] dapat bingkisan Bi-*ne Kids[produk Bioj*nn*]. Sedianya ingin diambil sehabis hari raya, karena temen yang diajak barengan ngambil, katanya bakal ‘kelamaan’ akhirnya sebelum ‘Idul Fitri udah diambil. Malah dapet saudara muslim baru.. Alkhamdulillah.
  • ·         Sewaktu jahitannya belum dibuka[sekitar 2minggu] nyaris kelingkingku tidak bisa diluruskan. Kalau nekat, ya sakit. Si jari manis mendampingi untuk menahan gerakannya. Hikmahnya menjadi terbiasa menggunakan tiga jari[ ibu jari, telunjuk,  dan jari tengah] ^_^ Alkhamdulillah, bikin mahir makan menggunakan tiga jari sebagaimana sunnah Rasulullah ^_^
  • ·         Sadar bahwa aku bisa berkhidmat dengan mencuci baju. Semoga  keluh kesahku menghilang ketika melakukannya.
  • ·         Jadi ingat kematian. Saat sakaratul maut, nyawa dicabut mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut. Subhanallah, merasakan dicabut jahitan di kelingking saja sudah luar biasa sakitnya  apalagi kalau sakaratul maut nanti???. Semoga semakin berhati-hati dalam bertingkahlaku.

Sempet kecewa, begitu mudahnya mencabut jahitan. Cuman digunting tengah lalu ditarik benangnya. Gitu, doang? Tau seperti itu, mending aku cabut sendiri di rumah, dah.. dengan sepenuh hati, jadi nggak nahan sakit.. yah… relakan! Buat belajar praktek co Ass tuh. Aku nahan sakit beneran[eh] coAss-nya senyum2
“Malah diketawain, lagi!” protesku pura2 menggertak dia biar nggak main2 dengan luka. Sakit, Tau! >.<

***
Bersambung ke Catatan Tentang Lukaku 2